Garuda Sapa Tano Batak di Siborong Borong

Tag

, , , ,

Repost dari GatraNews (www.gatra.com) . Laporanku dari Siborong Borong, waktu diundang Angkasa Pura II, saat peresmian penerbangan Garuda rute Bandara Soekarno Hatta  – Silangit, Siborong Borong, pada 2016.

Siborong Borong – Deru pesawat jet bermesin ganda itu memecah keheningan langit Bandara Silangit, Siborong Borong, Sumatera Utara – kota kecamatan yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, awal pekan ini. Puluhan orang, terdiri dari para pejabat daerah, tokoh masyarakat, tim kesenian, dan masyarakat setempat, mengekspresikan kegembiraan mereka dengan bertepuk tangan ketika roda pendarat pesawat PK GRE tipe Bombardier CRJ-1000 NextGen “Explore Jet” milik maskapai nasional Garuda Indonesia itu, menyentuh landasan.

Itulah penerbangan perdana Garuda Indonesia dari Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta di Tangerang Banten (CGK) menuju Bandara Silangit Siborong Borong (DTB) di Tapanuli Utara, yang menjadi pintu gerbang destinasi wisata tingkat dunia; Danau Toba. Satu per satu penumpang turun lewat tangga kecil yang merangkap pintu pesawat berkapasitas 96 penumpang ini, disambut selusin muda-mudi yang menarikan Tor-tor, tarian khas Tano (Tanah) Batak. Mereka adalah Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Budi Karya Sumadi, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) M Arif Wibowo, serta puluhan penumpang lainnya, termasuk anggota Forum Pemimpin Redaksi (Pemred).

Dalam sambutannya, Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan secara hiperbolik menyatakan, sejak Indonesia merdeka 70 tahun lalu, inilah kemerdekaan yang hakiki bagi masyarakat Tapanuli Raya. Betapa tidak, kini Danau Toba bisa dicapai dari Jakarta hanya dengan penerbangan 1 jam 45 menit, ditambah perjalanan darat sekitar 1 jam. Sebelum ini, kata Nikson, wisatawan menuju Tapanuli harus menempuh rute darat dari Kota Medan selama hampir 8 jam perjalanan. Ini waktu perjalanan yang cukup lama, mengingat jarak dari Bandara Kualanamu Medan di Kabupaten Deliserdang ke Siborong Borong “hanya” sekitar 265 km. Namun menurut pengamatan GATRAnews, di jalur wisata itu, terutama rute Kualanamu-Tebingtinggi, lalu lintasnya dipadati truk-truk besar pengangkut hasil perkebunan, sehingga perjalanan memakan waktu lebih lama.

Keberadaan Bandara Silangit yang dibangun pada zaman Jepang dan dikembangkan semasa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kemudian melayani rute penerbangan langsung dari Jakarta sebagai pintu gerbang Indonesia di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo itu, seolah membuka isolasi menuju Danau Toba dan Pulau Samosir, yang dijuluki “negeri indah kepingan surga” itu, serta destinasi wisata lainnya di Tano Batak.

Penerbangan Garuda yang langsung mendarat di jantung Tano Batak itu diharapkan bisa mendorong percepatan pembangunan kawasan Danau Toba, yang akan diproyeksikan menjadi Geopark Kaldera Toba. Salah satu syarat UNESCO menjadikan Danau Toba sebagai Taman Bumi Internasional (Global Geopark Network) adalah dengan ketersediaan infrastruktur jalan maupun jalur transportasi udara. Untuk itulah pemerintah pusat mendorong pengembangan Bandara Silangit menjadi bandara internasional.

Menurut Budi Karya, Angkasa Pura II (AP II) memiliki komitmen secara bertahap akan mengembangkan tersebut menjadi bandara internasional. Pada tahap pertama, pihaknya akan mengintensifkan pelayanan penerbangan dengan rute Silangit-Medan (Susi Air), Silangit-Gunungsitoli/Nias (Susi Air), dan Silangit-Batam (Wings Air), kemudian akan dikembangkan dengan rute penerbangan Silangit-Jakarta (Garuda).

Saat ini, Silangit memiliki ukuran landas pacu 2.400 m x 30 m. “Satu tahun ini, dengan investasi Rp 130 milyar, kami akan melakukan overlay (pelapisan) dan juga perpanjangan landasan, pemagaran bandara, perbaikan terminal, pembangunan tower oleh Airnav Indonesia,” kata Budi kepada wartawan, seusai konferensi pers di Bukit Doa Huta Ginjang, Tapanuli Utara.

Target pengembangan Silangit, menurut Budi, bisa didarati pesawat besar Boeing 737-800. Untuk perpanjangan landas pacu tahap pertama, menjadi 2.650 m x 45 m, akan dimulai pada Mei dan ditargetkan selesai pada September tahun ini. Sedangkan untuk masa datang, panjang landasan akan ditambah lagi hingga 3.500 m dengan lebar yang sama. Selain itu, apron akan ditambah menjadi 140 x 300 m2 dengan jumlah parking stand empat pesawat.

Budi menuturkan, karena terbilang baru, tiket untuk rute penerbangan Garuda CGK-DTB ini masih harus disubsidi. Dia mengharapkan pemerintah daerah (pemda) setempat menanggung 40% dari tiket. “Kami mengimbau agar pemda membeli 40% dari tiket itu. Boleh dijual lagi kepada orang lain,” tuturnya.

Garuda Indonesia, dengan pesawat jet berkapasitas 96 penumpang yang semuanya kelas ekonomi, bakal menyambangi Tanah Batak itu secara rutin tiga kali seminggu. “Setelah Garuda, menyusul akan masuk Sriwijaya Air dan Batik Air. Sriwijaya sudah melakukan pembicaraan dengan kami. Sriwijaya bisa mengambil rute Soekarno Hatta-Silangit-Kuala Namu,” kata Budi.

Sementara itu, Dirut Garuda Indonesia M Arif Wibowo, kepada wartawan menyatakan menyambut baik sinergi antara Garuda Indonesia dan AP II. Dia mengharapkan, kerja sama ini tidak hanya memberikan nilai tambah bagi pengguna jasa kedua perusahaan, melainkan juga dapat memberikan kontribusi positif bagi negara, khususnya dalam pengembangan pariwisata nasional.

“Pembukaan rute Jakarta-Silangit merupakan bagian dari pengembangan jaringan yang terus kami laksanakan, dan komitmen Garuda dalam mendukung program pemerintah dalam pengembangan destinasi wisata Danau Toba sebagai salah satu dari 10 Destinasi Wisata Prioritas di Indonesia,” tutur Arif.

Infrastruktur jalur transportasi udara menuju Danau Toba, yang bakal dijadikan ujung tombak 10 Destinasi Wisata Prioritas di Indonesia itu, terus dibenahi. Namun tak kalah penting, infrastruktur jalan darat, yang kini memiliki hanya dua jalur untuk dua arah yang berlawanan, harus turut dibenahi. Misalnya, dengan memperlebar jalan, guna memudahkan akses bagi bus-bus wisatawan.

Sumber: gatra.com
Reporter: Tian Arief

Keterangan foto:

Garuda Bombardier CRJ-1000 NextGen/PK GRE mendarat di Silangit, disambut masyarakat Batak (Tian Arief)

Mendongkrak Wisatawan Danau Toba dengan Jalur Udara

Tag

, , , ,

Repost dari GatraNews (www.gatra.com) . Laporanku dari Siborong Borong, waktu diundang Angkasa Pura II, saat peresmian penerbangan Garuda rute Bandara Soekarno Hatta  – Silangit, Siborong Borong, pada 2016.

Siborong Borong – Mengunjungi Sumatera Utara tidaklah lengkap tanpa mengunjungi Danau Toba. Ya, danau yang berada di jantung Tano (tanah) Batak ini bukanlah danau biasa, karena ini adalah danau kawah terbesar di dunia, yang membentang dengan ukuran panjang sekitar 100 kilometer, lebar 30 kilometer, dengan bagian terdalam hingga 505 meter. Danau Toba juga merupakan danau terbesar di Asia Tenggara, dan danau bertipe vulkanik terbesar kedua di dunia sesudah Danau Victoria di Sandra Afrika.

Di tengah Danau Toba terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir, yang berada pada ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Di tengah Pulau Samosir ini, terdapat dua danau, yakni Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang.

Setiap sudut maupun dan pinggiran Toba memiliki keindahan tersendiri, dipadu perbukitan yang berbaris mengelilinginya, serta pulau-pulau di atasnya, semakin menambah daya tarik Danau Toba. Saking luasnya, Danau Toba mencakup tujuh kabupaten, masing-masing Tapanuli Utara, Toba Samosir, Samosir, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo, dan Simalungun.

Terdapat jalan raya yang melingkari Danau Toba yang melintasi ketujuh kabupaten tersebut. Dari sana kita bisa melihat indahnya pemandangan Danau Toba ini dari berbagai sudut (angle). Salah satu pemandangan paling menarik (the best view) Danau Toba bisa kita saksikan dari Kabupaten Tapanuli Utara, tepatnya dari Desa Hutaginjang di Kecamatan Muara.

Hutaginjang (berarti kampung/wilayah yang berada di ketinggian) pada posisi 1.550 mdpl (meter di atas permukaan laut) dengan memiliki curah hujan 1.234 mm/thn, adalah salah satu dari sekian tempat wisata yang menawarkan panorama keindahan Danau Toba. Dari sana, kita bisa melemparkan pandangan ke arah hamparan sawah dan hutan yang menghijau, serta permukaan air danau yang tenang berwarna kebiruan, sungguh suatu pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan.

Kecamatan Muara memiliki luas 79,75 kilometer persegi atau 2,10 % dari luas Kabupaten Tapanuli Utara. Kawasan Wisata Alam Sijaba Hutaginjang sebelum menjadi obyek wisata merupakan kawasan hutan produksi terbatas. Sebagian besar penduduk sekitar menggantungkan hidupnya dari bertani. Salah satu komoditas pertanian yang terkenal dari kawasan ini adalah kopi.

Kawasan Wisata Alam Sijaba Hutaginjang merupakan obyek wisata termuda di propinsi Sumatera Utara. Di tempat ini telah dibangun sebuah rumah doa bagi umat Kristiani di lereng bukit Hutaginjang di tepian Danau Toba, dengan tujuan untuk memberkati daerah Tapanuli Utara.

Sarana dan prasarana di kawasan ini masih belum memadai. Jalan menuju obyek wisata Bukit Doa Hutaginjang ini menanjak, berkelok-kelok, dan sempit. Sehingga obyek wisata ini lebih mudah dicapai dengan kendaraan kecil non-sedan, meski bus sedang masih bisa melewatinya dengan susah payah. Lebih baik lagi, jenis SUV yang memiliki kemampuan jelajah yang tinggi.

Hotel terdekat dari wisata itu adalah Sentosa Lake Resort Hotel, hotel bintang tiga di kota Kecamatan Muara, yang lokasinya tepat menghadap ke Danau Toba, dengan pemandangan Pulau Sibandang yang begitu indah dan menawan.

Untuk menuju lokasi itu, dari kota Medan atau Bandara Kualanamu Deliserdang, anda menuju Tarutung, ibu kota Kabupaten Tapanuli Utara, atau Kota Kecamatan Siborong-borong. Ada juga jalur alternatif melalui Balige.

Dari Kota Medan/Bandara Kualanamu perjalanan memakan waktu sekitar 6 hingga 8 jam, karena lalu lintas yang terbilang padat dengan jalan yang relatif sempit (dua jalur untuk dua arah lalu lintas). Namun kini sudah ada terobosan baru. Maskapai nasional Garuda Indonesia, mulai 22 Maret 2016 melayani rute penerbangan Jakarta (Bandara Internasional Soekarno Hatta/CGK) – Siborong Borong (Bandara Silangit/DTB), setiap Selasa, Jumat, dan Minggu.

Penerbangan tiga kali seminggu itu dilayani pesawat jet bermesin ganda tipe Bombardier CRJ-1000 NextGen “Explore Jet” berpenumpang 96 orang, yang semuanya kelas ekonomi, dengan jam keberangkatan 08.50 WIB dan jam kedatangan 10.50 WIB.

PT Angkasa Pura II (Persero) menargetkan, pada akhir tahun ini Bandara Silangit bisa didarati pesawat besar Boeing 737, setelah landas pacunya diperluas, dari 2400 x 30 meter menjadi 2650 x 45 meter. Infrastruktur yang memadai diharapkan akan meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan mancanegara (wisman) ke Danau Toba dan obyek-obyek wisata lainnya, seperti Bukit Lawang, Brastagi, dan Nias.

Presiden Joko Widodo (Jokowi), awal bulan ini mengatakan, pemerintah akan mengembangkan kawasan wisata Danau Toba dengan membangun beberapa hotel untuk akomodasi para wisatawan. “Diharapkan dengan fasilitas yang lebih baik akan menarik wisnus dan wisman lebih banyak, dengan diferensiasi dan branding dan promosi yang lebih baik. Kita yakin ini jadi destinasi yang layak bagi wisman maupun wisnus,” ujar Presiden Jokowi, seperti dikutip Antara.

Sementara itu, Plt Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi, dalam sambutan peresmian penerbangan perdana Garuda Jakarta-Silangit, di Bukit Doa Hutaginjang Tapanuli Utara, awal pekan lalu, mengharapkan jumlah kunjungan wisnus maupun wisman yang menikmati keindahan alam Sumatera Utara semakin meningkat. Saat ini kunjungan wisatawan ke provinsi itu 250 ribu orang per tahun, dan pada 2019 diharapkan meningkat menjadi 1 juta kunjungan.

“Kalau seorang wisatawan saja menghabiskan 1.000 dolar Amerika atau sekitar Rp 13 juta, bisa kita bayangkan berapa devisa yang akan kita dapat dari sektor pariwisata ini,” tutur Erry, di depan Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Budi Karya Sumadi, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) M Arif Wibowo, dan beberapa pejabat pusat maupun daerah.

Adanya penerbangan langsung Garuda dari Jakarta ke kawasan Toba yang merupakan jantung Tano Batak ini, diharapkan mampu mendongkrak Danau Toba sebagai ujung tombak dari 10 destinasi wisata prioritas tahun 2016, selain Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, Bromo-Tengger-Semeru, Kepulauan Seribu, Wakatobi, Tanjung Lesung, Morotai, dan Tanjung Kelayang.

Sumber: gatra.com
Reporter: Tian Arief

Keterangan gambar:

Grafis Bandara Internasional Silangit (SkyscraperCity)

Inzet: Terminal Bandara Silangit sederhana di masa lalu

Bandara Internasional di Kota Kecamatan

Tag

, , ,

TADINYA aku tidak percaya itu sebuah bandara. Tampak depannya lebih mirip sebuah Kantor Desa. Selain pintu masuk terminal kedatangan, ada beberapa ruangan kantor biro travel, toko suvenir, dan kantin. Disebut kantin karena menu yang disajikan bukan nasi plus lauk pauknya, melainkan mi instan, makanan ringan, teh, kopi, dan beberapa makanan khas daerah untuk oleh-oleh. Itulah gambaran Bandara Silangit, di Kecamatan Siborong Borong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Awalnya Bandara Silangit hanya melayani penerbangan perintis untuk pesawat berkapasitas di bawah 20 kursi, dari Sibolga, Gunung Sitoli, dan Medan. Kemudian bandara itu melayani penerbangan pesawat ATR 72-500 dari Bandara Internasional (KNO) Kualanamu, Deli Serdang.

Saat Danau Toba ditetapkan sebagai satu dari 10 Destinasi Pariwisata Prioritas di Indonesia, masuklah maskapai Garuda Indonesia dengan pesawat Bombardier CRJ1000 bekapasitas 96 penumpang, menempuh rute Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) Jakarta – Bandara Silangit Siborong Borong, sehingga menambah jumlah penerbangan di bandara kecil itu. Termasuk maskapai Sriwijaya Air (Boeing B 737-500 berkapasitas 120 penumpang), disusul Batik Air (Boeing 737-800 berkapasitas 162 penumpang).

Bandara Internasional

Kini Bandara Internasional Silangit yang berada di kota kecamatan yang sejuk di pinggiran Danau Toba itu membuka penerbangan internasional perdana dengan rute Singapura-Silangit-Singapura.

Landas pacu pun diperpanjang dan diperlebar. PT Angkasa Pura (AP) II, selaku operator bandara, membangun Terminal internasional dengan bentuk rumah adat suku Batak, yang tampak kokoh dengan bentuk segitiga. Terminal baru seluas 2.436 m2 itu memiliki fasilitas 4 check-in counter untuk keberangkatan internasional, 5 check-in counter untuk domestik, dan 2 conveyor belt di baggage claim area.

Di pintu masuk dari pintu kedatangan, terdapat peta-peta dan informasi pariwisata Danau Toba yang terpampang di dinding dalam ruangan pengambilan bagasi. Boarding lounge tampak bersih dengan nuansa biru yang memanjakan penumpang saat menunggu. Bandara ini juga kini dilengkapi area komersial, seperti coffee shop hingga kedai tradisional yang dikelola UMKM daerah setempat.

Sebelumnya, wisatawan asing maupun domestik dari Jakarta yang ingin ke Danau Toba harus lewat Bandara Soekarno Hatta dulu, untuk kemudian menuju Kualanamu, lalu dilanjutkan pesawat kecil atau jalur darat (bus/mobil) ke Silangit. Perjalanan darat bisa memakan waktu antara 6 hingga 8 jam, karena sempitnya jalan dan tingginya arus lalu lintas.

Nah, Kehadiran Bandara Internasional Silangit menjadi pintu gerbang dari udara yang membuat semakin mudahnya akses menuju lokasi wisata Danau Toba di jantung Tano Batak. []

Keterangan Foto:

Atas: Bandara Silangit 2016 (Tian Arief)

Bawah: Bandara Internasional Silangit (paradiso.co.id)

Tulisan terkait (laporanku di Gatra.com):

https://www.gatra.com/rubrik/wisata/wisata-sumatera/192853-mendongkrak-wisatawan-danau-toba-dengan-jalur-udara

https://www.gatra.com/rubrik/wisata/wisata-sumatera/192711-garuda-sapa-tano-batak-di-siborong-borong

London School of Public Relations Terima Mahasiswa Autis

Tag

, , , ,

Jakarta – Stikom The London School of Public Relations (LSPR) Jakarta selama ini dikenal sebagai sekolah Public Relations atau kampusnya para selebritis. Namun kini predikatnya bertambah, yakni kampus yang sangat peduli pada isu autisme. Itu terjadi sejak pendirian London School Centre for Autism Awareness (LSCAA). Hal ini diungkapkan pendiri sekaligus Direktur LSPR, Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, dalam Konferensi Pendidikan Inklusif Indonesia 2019, di Menara Kuningan Jakarta, Jumat (22/2).

Kesadaran Prita terhadap kondisi anak autis yang memerlukan perhatian khusus dalam pendidikan, mendorongnya untuk mendirikan sebuah lembaga yang berfungsi untuk memberikan pengetahuan khusus tentang anak autis tersebut kepada masyarakat.

“Dari 5000 mahasiswa, 70 di antaranya autistik, dan 800 mahasiswa di antaranya jadi volunteer. Mereka jadi buddy (sahabat) bagi mahasiswa autis. Mereka dapat nilai tinggi untuk itu (menjadi buddy),” kata Prita kepada 200 lebih peserta konferensi yang diprakarsai YIPABK, CAE Indonesia, dan Ven ini.

Apa yang dilakukan LSPR, menurut Prita, merupakan perwujudan dari kesetaraan dalam akses pendidikan bermutu bagi semua anak tanpa kecuali. Awalnya, pendirian LSCAA ini merupakan bagian dari kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, yang salah satu karakteristiknya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi—baik verbal ataupun non-verbal.

Sebelum menerima mahasiswa autis, Prita mengondisikan seluruh dosen, karyawan, dan para mahasiswa, untuk menerima rekan-rekannya yang menyandang autisme. Usia para mahasiswa berkebutuhan khusus itu antara 22 hingga 28 tahun.

“Mereka bisa komputer, menggambar, memotret, menyablon. Hasilnya desain mereka dibuat hiasan magnet tempelan di pintu lemari es, gantungan kunci, dan sebagainya,” kata pengusaha 57 tahun, yang merupakan istri dari Kemal Effendi Gani (Pemimpin Redaksi dan Pemimpin Umum Majalah SWA) ini.

Prita menuturkan, pihaknya membina kerja sama dengan pemilik hypermarket TransMart. Setiap hari, dari pukul 09.00-11.00, toko ditutup untuk digunakan khusus oleh para mahasiswa penyandang autis untuk (belajar) berbelanja. Tentu saja, jelasnya, makanan yang sekiranya bisa memicu hiperaktivitas para mahasiswa autis itu diamankan dulu.

Kegiatan lainnya yang dilakukan LSCAA meliputi acara tahunan Autism Awareness Festival, Workshop for Parents, pembuatan produksi film pendek “Saudaraku Berbeda”, Teachers Training, dan kegiatan lain terkait sosialisasi autisme.

Hingga kini, tutur Prita, LSCAA telah memberikan pelatihan kepada 5.028 guru, yang mewakili 1.616 Sekolah Dasar se-Jabodetabek. Sedangkan Pemutaran film “Saudaraku Berbeda” yang telah dilakukan di 24 sekolah, telah ditonton 3.131 siswa. Pada kesempatan itu, orangtua pun dilibatkan dengan berbagi pengalaman dengan yang lainnya, yang telah diikuti oleh 264 orang.

Seluruh kegiatan mahasiswa penyandang autis di LSPR dilakukan bersama-sama mahasiswa mainstream.

Persyaratan mahasiswa autisme yang diterima di LSPR, tutur Prita, mereka yang berkategori high function. Artinya, mereka bisa ke toilet sendiri, tanpa pendamping. Mereka juga bisa jalan-jalan sendiri. Untuk penerimaan mahasiswa low function (yang masih perlu dibantu) akan dibuka setelah siap SDM-nya. “Mudah-mudahan tahun depan bisa,” ujar Pritha berharap.

Tian Arief

Keterangan: Foto kampus LSPR (kinibisa.com)

Menerapi Tunagrahita Lewat Tarian Tradisional

Tag

, , , ,

Jakarta – Ada yang mengejutkan dari perhelatan Konferensi Pendidikan Inklusif Indonesia 2019, pekan lalu, di Jakarta. Seorang peserta dari Jawa Timur memperkenalkan metode terapi anak-anak penyandang tunagrahita dengan tarian tradisional. Arina Restian, M.Pd, peserta tersebut, merupakan dosen seni dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia menceritakan kiprahnya dalam menerapi sejumlah anak-anak tunagrahita tingkat sedang dengan Tari Glipang asal Probolinggo. Dan hasilnya sungguh menggembirakan.

Menurut Arina, yang membawakan makalah berjudul “Tari Glipang Sebagai Sarana Peningkatan Konsentrasi Kinestetik Tunagrahita”, di depan lebih dari 200 peserta konferensi yang diprakarsai YIPABK, CAE Indonesia, dan VEN itu, Tari Glipang memiliki 13 tahapan yang diterapkan dalam pembelajaran seni yang dapat digunakan sebagai terapi untuk anak-anak penyandang tunagrahita.

“Tari Glipang pada anak grahita dapat membantu mereka meredakan emosi dan berpengaruh pada konsentrasinya. Selain itu, Tari Glipang memiliki gerakan yang fokus ke pengaturan pernapasan. Pengaturan pernapasan yang baik akan melancarkan peredaran darah yang secara langsung berpengaruh pada peningkatan konsentrasi anak,” tutur guru tari ini, sambil memetakan gerakan sederhana tarian tersebut kepada para peserta.

Karakteristik Tunagrahita

Arina menjelaskan, berdasarkan rangkuman beberapa pendapat ahli, anak tunagrahita ringan memiliki karakteristik antara lain kecerdasan anak antara 50-70, kemampuan bahasa rendah, tidak dapat berpikir secara abstrak, dan dapat melakukan pekerjaan sederhana.

Berdasarkan karakteristik tersebut, ujar pendiri Rumah Budaya di Auckland Selandia Baru itu, mereka dimungkinkan mengikuti pembelajaran ketrampilan memasang payet. Kemampuan anak tunagrahita yang terbatas pada kognitif masih memiliki kemampuan yang bisa dikembangkan, yaitu motoriknya. Lebih jauh dijelaskan, kemampuan motorik anak tunagrahita ringan pada umumnya tidak berbeda dengan anak normal, sehingga untuk melakukan pembelajaran ketrampilan tidak bermasalah.

Tari Glipang yang diajarkan pada mereka memiliki manfaat meningkatkan rasa percaya diri dan dapat digunakan sebagai pengontrol emosi, pengontrol kecepatan berbicara sehingga mudah dipahami orang lain, mengurangi perilaku mengganggu teman, mampu berkonsentrasi dalam pembelajaran, dan mengembangkan kemampuan bersosialisasi.

Arina menjelaskan, penerapan Tari Glipang dapat dilakukan secara bertahap dan intensif kepada anak tunagrahita. Gerakan-gerakan yang dilakukan disesuaikan dengan usia anak, sehingga lebih mudah diaplikasikan. Ia memberi catatan, anak tunagrahita yang dilatihnya adalah tunagrahita sedang untuk diturunkan menjadi ringan. Namun tidak menyembuhkan sama sekali. “Yang down syndrome tidak bisa,” ujar penulis buku psikologi ini, menjelaskan.

Sejauh ini, ungkapnya, anak-anak asuhannya mengalami kemajuan. Ada beberapa orangtua dari anak didiknya yang menyatakan kegembiraannya karena anaknya sekarang lebih mudah diatur, dan tidak gampang menangis. Wali Kota Malang pun menyatakan terima kasih kepadanya.

Langkah-langkahnya

Arina mempraktikkan gerakan merentangkan tangan, sebagai bagian dari gerakan Tari Glipang. Saat tangan direntangkan, katanya, tangan mulai menghangat. Otot ditarik sampai maksimal. “Ini teknik untuk menerapi penyandang tunagrahita, namanya nanggal pinentang,” jelasnya. “Olah gerak tubuh naik ke leher belakang, kemudian naik ke otak tengah,” ujarnya menambahkan.

Menurutnya, ada langkah-langkahnya. Awalnya, pelatih mendekati sang anak, dan mengecek keadaannya. Lalu melakukan kegiatan awal, yang meliputi perencanaan, pendekatan, penghangatan (musik dihidupkan, dan merespon musik). Kemudian masuk kegiatan inti, dengan memasukkan materi tarian. Lalu ditutup dengan kegiatan akhir berupa pendinginan. “Sebelum memulai harus pemanasan dulu, berkomunikasi dengan peserta, diberikan musik, dan diakhiri dengan pendinginan. Ini penting, jangan sampai tidak melakukannya karena bisa berbahaya atau merusak,” kata dia.

Ke-13 gerakan tari yang bisa memicu daya konsentrasi kinestetik penyandang tunagrahita tersebut meliputi: gerak siaga, gerak kaki kuda, gerak jalan di tempat, gerak lesung pipi, gerak kuda-kuda, gerakan menyerang lawan, gerak algojo, gerak algojo silang, gerak serangan, gerak pinguin, gerak melambai ke atas, gerak melambai ke samping, dan gerakan penghormatan.

Stimulasinya berupa alunan musik tradisional yang diputarkan selama tarian berlangsung.

Tian Arief

 

Urus ABK Perlu ‘Pemain Cadangan’

Tag

, , ,

Jakarta – Orangtua (ortu) dari anak berkebutuhan khusus (ABK), termasuk penyandang ADHD, bisa mengalami kecapaian yang sangat (fatigue). Perlu waktu yang cukup bagi ortu untuk pemulihan. Namun karena si anak yang cenderung hiperaktif dan harus terus mendapatkan pendampingan, maka diperlukan adanya ‘pemain cadangan’. Siapa saja? Menurut Viera Adella, Psi. M.Psi, para ‘pemain cadangan’ itu bisa om atau tante dari si anak, atau keluarga terdekatnya.

“Makin banyak ‘pemain cadangan’, makin baik,” kata Della -panggilan psikolog klinis anak dan dewasa itu- pada Konferensi Pendidikan Inklusif Indonesia 2019, di Menara Kuningan Jakarta, Jumat (22/2).

Fatigue bisa saja terjadi, terutama pada ibu, sehingga sang ibu perlu penanganan, sebab emosi ibu harus selalu terjaga, nggak boleh kasar kepada anak dan harus bisa mengendalikan diri. Di sinilah perlu adanya orang lain dari keluarga dekat yang menggantikannya menjaga ABK.

Kecapaian yang melanda para orangtua ini dimungkinkan terjadi karena anak ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder) yang memiliki gejala hiperaktivitas motorik, selalu gelisah, tidak bisa duduk tenang, dan tidak bisa memusatkan perhatian. Orangtua setiap saat, bahkan selama 24 jam, akan selalu aware terhadap anaknya, dan terus melakukan koreksi atas perilaku yang dianggap tidak layak, bahkan bisa mengarah pada kepanikan, bila ortu sudah tak mampu lagi mengendalikan dirinya.

Perilaku Penyandang ADHD

Kepada peserta konferensi, Della banyak menceritakan pengalaman dirinya selaku orangtua remaja penyandang ADHD, selain pengalamannya memberikan konseling kepada para kliennya. Tak jarang, anak ADHD menginterupsi obrolan orangtuanya, saat dia ingin bicara sesuatu. Namun saat ortu berbicara sesuatu kepada anak, misalnya apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, justru si anak tak mau dengar.

“Seperti tak tahu aturan, marah saat dilarang (impulsif), dan tantrum muncul karena dia sulit berkompromi,” tutur Sarjana maupun Magister Profesional Psikologi dari Universitas Padjadjaran Bandung ini.

Saat berada di rumah, kata Della, orangtua anak ADHD seringkali mengeluh, kalau dia bicara pada anaknya, seolah masuk dari telinga kanan keluar dari telinga kiri. Anak juga bisa bermain Play Station hingga berjam-jam tanpa henti. Ironisnya, anak ADHD bisa hapal semua pemain sepak bola dari grup-grup favorit (yang berjumlah belasan orang), namun tak ingat apa yang dikatakan ibunya, beberapa menit lalu.

Sedangkan saat berada di sekolah, siswa ADHD kelihatan melamun, karena pikirannya “tidak hadir” di ruangan kelas. Saat dipanggil kembali, dia tak dapat menunjukkan materi pelajaran yang sedang dijelaskan. Dia juga banyak mengalami kesulitan untuk mengikuti instruksi guru.

Lebih jauh Della mengungkapkan, dampak utama ADHD bisa berupa perilaku yang mencari-cari resiko atau bahaya, juga bermasalah dengan konsentrasi dan transisi, selain pandai berbohong, memaki, mencuri, dan menyalahkan orang lain.

Mereka hidup untuk masa sekarang, dan kurang berpandangan ke depan dan ke belakang. Dia juga memiliki kemampuan pengorganisasian yang buruk karena sama sekali tak dapat mengatur waktu. Selain itu, memiliki toleransi yang buruk terhadap frustrasi dan tidak fleksibel.

Yang Harus Dilakukan Ortu

Jika seorang orangtua sudah “dititipi” Tuhan anak ADHD, apa yang musti dia lakukan? Della menjelaskan, orangtua harus menerima bahwa anaknya mengalami ADHD. Dia juga harus menjelaskan kondisi itu kepada keluarga terdekat, selain mencari informasi tentang ADHD dan penanganannya. Juga menerima keadaan diri kita, dan terpenting menyiapkan waktu istirahat untuk dirinya dan anggota keluarga lainnya yang mendapat giliran menjaga anak ADHD itu.

“Jadilah orangtua yang positif. Gunakan pujian, perhatian, privilege, dan reward. Bila anak melanggar aturan, berikan hukuman,” kata Della menegaskan.

Selain menciptakan ketenangan, rutinitas, dan komunikasi yang jelas, orangtua juga perlu menemukan triggers atau pemicunya. “Carilah hal-hal yang dapat membuat anak ‘meledak’. Hindarkan anak dari hal-hal tersebut, dan kenalkan secara perlahan kemudian,” ujar Della menyarankan.

Sedangkan untuk jenis-jenis terapi yang diberikan pada anak ADHD meliputi sensori integrasi, cognitive behavior therapy, social skills training, occupation therapy, diet makanan, obat-obatan, skinnerian hypnotherapy, dan family counseling.

Tian Arief

Psikolog: Banyak Sekali Manfaat Bermain Ayunan

Tag

, , ,

Jakarta – Anak-anak yang bermain ayunan sudah jadi pemandangan biasa dan tak tampak ada yang istimewa. Padahal, kegiatan atau permainan sederhana itu banyak memberikan manfaat bagi anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Hal itu diungkapkan Rini B Setyowati, Amd.OT, S.Psi, psikolog Occupational Therapy, dalam Konferensi Pendidikan Inklusi Indonesia 2019, di Menara Kuningan Jakarta, Jumat (22/2).

Rini menuturkan, komponen yang terlibat saat seorang anak bermain ayunan meliputi: Komponen Sensorik (perasaan sensasional dan perasaan takut/ngeri), Keterampilan Motorik (berpegangan, duduk), Kemmampuan Berinteraksi dan Berkomunikasi (permintaan agar didorong/diayunkan, permintaan memperlambat ayunan, dan permintaan menghentikan ayunan), Kemampuan Berkonsentrasi (saat berayun), Kemampuan Aktualisasi dan Kontrol Diri (apakah ayunannya terlalu cepat atau malah terlalu pelan).

Menurutnya, perkembangan sensomotorik seorang anak, antara lain, Sistem Sensorik (Level 1), yang meliputi sistem penglihatan (visual system), sistem pendengaran (auditory system), Sistem Pembau (Olfactory System), Sistem Pengecap (Gustatory System), Sistem Peraba (tactile system), Sistem Keseimbangan (vestibuler system), dan Sistem Gerakan (Propioceptif system). Dua yang disebut terakhir, kata Rini, merupakan indera keenam dan ketujuh manusia. Sistem sensorik ini dialami anak baru lahir hingga berusia 1 tahun.

Sedangkan Level 2, 3, dan 4, meliputi Fondasi Ketrampilan Motorik (usia 1-2 tahun), Perceptual Motor (usia 3 tahun), dan Akademis (mulai usia 4 tahun).

Rini selanjutnya menerangkan, sistem penglihatan bisa merespon warna, bentuk, obyek, dan sinar terang/gelap, stimulus untuk sistem pendengaran berupa suara, sistem pengecapan meliputi informasi sensorik rasa, suhu, tekstur makanan, kontak fisik di sekitar mulut, lidah dan gigi. Informasi sendorik dari sistem peraba/tactile asdalah tekstur, suhu, sentuhan/kontak fisik. Untuk sistem keseimbangan, informasi sensoriknya berupa perubahan posisi kepala terhadap badan, perubahan posisi kepala dan badan terhadap ground/tempat berpijak dan terhadap ruang, serta perubahan ketinggian. Untuk sistem gerakan, informasi sensoriknya berupa rasa capek dan posisi & gerakan sendi, anggota badan.

Level 2 atau fondasi ketrampilan motorik, sambungnya, meliputi perencanaan gerak (motor planning), Literalisasi (koordinasi dua sisi tubuh), kontrol postur (posturan control), kematangan refleks (reflex maturity), dan body awareness.

Level 3 atau ketrampilan motorik perseptual meliputi kegiatan bertujuan (porposeful activity), koordinasi mata dan tangan (eye hand coordination), integrasi visual motorik (visual motor integration), persepsi visual (visual perception), persepsi pendengaran dan kemampuan berbahasa, serta auditory perception & language skill.

Level 4 atau kesiapan akademis meliputi academic learning, complex motor skills (ketrampilan motorik), attention regulation (fokus, atensi), behaviour organization (perilaku), body and brain spesialization, visualisasi, serta self esteem & self control.

Rini menjelaskan, jika aspek-aspek tersebut tidak tersimulasi, maka pada Level 1 akan mengalami gangguan proses sensorik (sensory avoidance/seeking behaviour), Level 2 gangguan motor planning, kontrol postur, kematangan refleks, body awareness, koordinasi dua sisi tubuh, Level 3 kegiatan tidak bertujuan, gangguan bahasa, gangguan integrasi visual motorik, Level 4 gangguan atensi, gangguan perilaku, gangguan ketrampilan motorik kompleks, problem belajar, gangguan self esteem & self control.

Selanjutnya dia menyebutkan, prinsip dalam simulasi bisa disingkat SAFE, yang berarti Sensory-Motor (S), Appfopiate (A), Fun (F), dan Easy (E).

Tian Arief

Tingkatkan Layanan Pendidikan ABK Tanpa Diskriminasi

Tag

, , ,

Jakarta – Layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) tanpa diskriminasi harus terus ditingkatkan. Saat ini, untuk pendidikan dasar terdapat 2.603 sekolah inklusif. Sekolah-sekolah ini melayani 46.783 siswa.

Hal itu dikatakan Kepala Seksi Pelaksanaan Kurikulum Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus Layanan Khusus, Ditjen Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dra. Tita Sriharyati, M.Phil, SNE, dalam Konferensi Pendidikan Inklusif Indonesia 2019, di Menara Kuningan Jakarta, Kamis (21/2).

Menurut Tita, pengembangan pendidikan inklusif di Indonesia masih membutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah daerah. Saat ini, tercatat baru sekitar delapan provinsi serta 40 kabupaten/kota yang berkomitmen pada terwujudnya layanan inklusif di daerah.

“Seharusnya Perda provinsi dan kabupaten/kota tentang pendidikan, seluruhnya sudah inklusif. Jangan sampai ada dua Perda,” tutur Tita, seraya mengungkapkan, tak sedikit di pemerintah provinsi maupun kabupatan/kota yang peraturan daerahnya saling tumpang tindih, sehingga perlu disederhanakan.

Permasalahan

Tita menuturkan, Dari 1,6 juta anak berkebutuhan khusus di Indonesia, baru 18% yang mendapatkan layanan pendidikan inklusi. Sekitar 115 ribu ABK bersekolah di SLB, sedangkan 299 ribu anak bersekolah di sekolah reguler pelaksana Sekolah Inklusi. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, sudah saatnya Indonesia melakukan pergerakan secara besar-besaran dalam hal pendidikan inklusi. Namun pelaksanaannya belum mendapatkan dukungan yang besar.

Kurangnya dukungan yang dimaksud, kata Tita, yakni kurangnya ketersediaan dan akurasi data ABK, pusat layanan identifikasi dan asesmen yang belum optimal, resource center sangat terbatas, dan belum ada unit layanan disabilitas (ULD).

Untuk kebijakan yang afirmatif, lanjutnya, belum menjangkau seluruh daerah (provinsi, kabupaten/kota), daerah belum memahami sehingga tidak menjadi program prioritas daerah, masih minim dukungan APBD, dan sangat sedikit didukung Perda/Pergub/Perbup/Perwali.

Sedangkan guru yang kompeten, berupa guru pembimbing khusus (GPK) sangat terbatas, kemampuan mengadaptasi kurikulum dan pembelajaran masih rendah, penyediaan media pembelajaran yang aksesibel oleh ABK belum maksimal.

Untuk lingkungan sekolah, masih ada penolakan dari sebagian orangtua/masyarakat, pelecehan kepada penyandang disabilitas, dan belum melibatkan ABK dalam kegiatan belajar.

Menurut Tita, dasar dari kebijakan yang dibuat adalah Undang-undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, dan Permendiknas No 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif, yang kemudian direvisi (masih proses revisi).

Tian Arief

Tak Semua Orangtua Terima Kenyataan Anaknya ABK

Tag

, , ,

Jakarta – Semua orangtua mengharapkan anak-anaknya kelak hidup sukses dan mandiri. Namun impian ini menjadi bumerang saat orangtua mengetahui bahwa anaknya terlahir dengan kekurangan kondisi fisik, mental, psikis, sosial, maupun perilaku yang berbeda dengan anak pada umumnya. Jika orangtua dapat menerima dengan lapang dada kondisi anaknya yang berkebutuhan khusus (ABK), mungkin permasalahan akan selesai di situ.

“Tapi jika orangtua tidak dapat menerima anaknya yang memiliki kebutuhan khusus, maka itu akan menjadikan permasalahan bagi orangtua dan anak itu sendiri,” kata Prof. Dr. Sri Milfayetty, MS.Kons.S.Psi, dalam Konferensi Pendidikan Inklusif Indonesia 2019, di Menara Kuningan Jakarta, Kamis (21/2).

Guru Besar Universitas Negeri Medan itu membenarkan, ada orangtua yang tak mengakui kenyataan tentang kondisi anaknya yang berkebutuhan khusus, dan merasa anaknya baik-baik saja. Untuk menghadapi kondisi ini, di sinilah peran Bimbingan Konseling (BK) dalam melakukan pendekatan dengan keluarga anak ABK, agar keluarga dapat menerima dan mengurangi masalah pribadi dari ABK.

Di hadapan 200 lebih peserta konferensi yang digelar YIPABK, CAE Indonesia, dan VEN itu, Prof. Milfa menjelaskan, ABK juga menghadapi masalah lingkungan dan hubungan dengan orang lain di sekitarnya. Selain karena kurangnya interaksi dengan lingkungan, tutur Milfa, ABK juga memiliki masalah karena hambatan yang ada pada dirinya.

“Anak berkebutuhan khusus seringkali mengalami kesulitan untuk berinteraksi dan bermain dengan anak-anak lainnya, sehingga menyebabkan ABK minder dan merasa terasingkan dengan kehidupan sosial di sekitarnya,” ujar konselor pendidikan itu.

Lebih jauh Milfa menuturkan, permasalahan belakar ABK seringkali berkaitan dengan alat bantu pembelajaran, seperti kurangnya fasilitas sekolah dalam pembelajaran ABK. Selain itu, ABK juga mengalami kesulitan dalam gaya belajar dan pengerjaan tugas. Permasalahan yang mencuat juga berkaitan dengan penyesuaian diri, pemilihan ekstrakurikuler, dan memilih jurusan yang cocok dengan keadaan dirinya.

Saat ABK memasuki dunia kerja, dia biasanya menemui masalah berkaitan dengan jenis pekerjaan yang cocok dengan dirinya. Permasalahan ini bersinggungan dengan harapan orangtua berkaitan dengan masa depan anaknya.

Manfaat bermain

Prof. Milfa menekankan bahwa setiap anak perlu memiliki kecakapan hidup, seperti kemampuan menghadapi realita, ketangguhan dalam menghadapi permasalahan, dan kemandirian dalam menemukan solusi. Menurutnya, ada korelasi antara bermain di masa kecil dengan perilaku setelah anak dewasa.

“Orang-orang yang memiliki pengalaman bermain yang cukup di masa kecilnya, ternyata menjadi orang dewasa yang lebih luwes dalam menghadapi realita, memiliki ketangguhan untuk bertahan dan menemukan solusi lebih cepat dan tepat dibanding mereka yang masa kecilnya kurang bemain,” katanya.

Pemahaman ini yang kemudian menuntunnya untuk mengambil program Postgraduate Certificate in Therapeutic Play Skills dan Posgraduate Diploma in Play Therapy di CAE Indonesia. Pengalaman klinis menunjukkan, model integratif holistik dalam terapi bermain (play therapy) efektif dalam membantu kemampuan anak menghadapi masalahnya, sehingga anak-anak yang mengalami masalah menjadi lebih pesat perkembangannya.

Demikian pula dengan anak berkebutuhan khusus. Mereka menjadi bertambah baik kemampuannya dalam menghadapi masalah sosial, pengendalian diri, pergaulan, dan hiperaktivitas.

Tian Arief

Bunda Ima: Anak Autis Bisa Mandiri!

Tag

, , , ,

Jakarta – Dr. Imaculata Ummiyati, M.Si, atau lebih dikenal dengan panggilan Bunda Ima, berbagi pengalaman kepada peserta Konferensi Pendidikan Inklusif Indonesia 2019, yang digelar di Menara Kuningan Jakarta, Jumat (22/2). Pendiri Yayasan Imaculata Autis Boarding School ini mengatakan, penyandang autisme bisa diajari untuk mandiri. Sampai ia berani menjamin anak-anak autis berhasil mandiri 100%. Bagaimana bisa?

Ima, yang dijuluki sebagai Ibu Anak Autis Indonesia itu menegaskan, Asrama Imaculata tidak pernah gagal dalam melatih kemandirian anak-anak asuhannya. Untuk wicara, dia mengakui, kemungkinannya kecil, karena Intelligence Quotient (IQ) anak autis berada jauh di bawah rata-rata anak biasa, sehingga sangat jarang ada anak autis yang diterima di sekolah umum.

Motivasi Ima ingin menjadikan semua anak autis mandiri, berperilaku baik, dan bisa mengembangkan bakatnya. Bakat yang dimaksud di sini bukanlah pintar melukis, menyanyi, atau memainkan alat musik, melainkan melakukan apa yang bisa dia lakukan. Misalnya anak yang senang masak akan diajarkannya memasak secara terus menerus, meskipun dia tidak berbakat memasak. Demikian pula jika anak senang main air, maka dia akan diajarkan renang sampai dia bisa renang, dengan harapan siapa tahu kelak bisa menjuarai perlombaan renang, meski kemungkinannya kecil sekali. “Hanya satu di antara sejuta anak autis yang bisa meraihnya,” ujar perempuan yang selama 37 tahun berkecimpung mengurusi anak autis itu.

Berdasarkan pengamatan Doktor Psikologi dari UPI YAI Jakarta itu, anak autis banyak yang tidak mampu berbuat apa-apa. Sayangnya, sekarang ini berkembang image bahwa anak autis itu sebetulnya pintar dan berbakat, padahal sebetulnya tidak. Oleh karena itu, penelitiannya terhadap anak autis fokus pada habit atau kebiasaan. Artinya, sesuatu yang dilakukan terus menerus, berulang-ulang, hingga akhirnya mereka bisa melakukan sendiri dengan baik.

Berawal dari Sekolah Minggu

Ima kepada lebih dari 200 peserta Konvensi Pendidikan Inklusi yang digelar YIPABK, CAE Indonesia, dan VEN itu, menyatakan, tidak ada sesuatu yang khusus kenapa dirinya tertarik meneliti anak autis. Dia tak memiliki anak penyandang autis, seperti umumnya pemilik tempat terapi yang memiliki anak autis, hingga membuka tempat terapi sendiri. Ima mulai tertarik pada anak berkebutuhan khusus sejak masih remaja dan mengajar anak-anak Sekolah Minggu di gereja,

Suatu saat, Ima melihat seorang anak yang asyik menjilati meja, dan perilaku tak wajar lainnya. Barulah kemudian ia tahu bahwa anak itu menyandang autisme. Dari situlah Ima jadi lebih tertarik pada pendidikan anak berkebutuhan khusus daripada menjadi guru di sekolah umum. Sebab baginya membuat anak penyandang autis bisa mandiri menjadi kebahagiaan luar biasa baginya.

Kendati secara sosial mereka seperti anak yang tidak bisa berbuat apa-apa, namun Ima yakin, kalau dia mengajari mereka sesuatu, anak itu pasti bisa, sehingga kelak hidupnya tidak akan terlantar. Niat itu pula yang menggiring Ima tertarik pada ilmu psikologi ketimbang ilmu kedokteran yang lebih fokus ke penyakit fisik. Ilmu psikologi membahas ke perilaku dan memotivasi seseorang. Misalnya, memotivasi anak-anak untuk mandi, belajar, atau melakukan sesuatu untuk dirinya. Bagi Ima, itu adalah sesuatu yang sangat real dibutuhkan mereka.

Asrama anak autis

Dari uang tabungannya mengajar di berbagai sekolah, Ima pada 2000 mendirikan Asrama Imaculata di Taman Harapan Baru, Medan Satria, Kota Bekasi. Dua bulan pertama, asrama yang menampung 39 murid itu sudah penuh terisi. Mereka didampingi 32 guru. Menurutnya, di asrama Imaculata makin banyak anak autis yang berhasil mandiri, dari sebelumnya tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan makan pun harus disuapi, dimandikan, diceboki kalau buang air besar, dan sebagainya.

“Ketika mereka mampu mandiri, itu menjadi luar biasa. Bayangkan, kalau perempuan sudah melewati akil balig, tapi belum bisa pakai pembalut, apa jadinya ? Itu sebabnya kalau anak autis itu bisa mandiri, sangat luar biasa,” tuturnya.

Temuannya tentang pola pengasuhan anak autis melalui habit sudah bisa diadopsi dan dipraktikkan para orangtua di rumah masing-masing. Dengan demikian, orangtua tidak perlu lagi menyekolahkan anaknya di Imaculata, asal pola asuh tadi bisa dilakukan. Prinsipnya adalah disiplin, konsisten, dan terukur. Untuk itulah saat ini Ima sering memberi training bagi para orangtua dari anak penyandang autis agar mereka dapat menerapkan pola asuh seperti di asrama Imaculata.

Bekerja di luar

Di Imaculata, tutur Ima, anak-anak asuhannya tidak melulu belajar di belakang meja (di kelas), melainkan diajak ke kebun, nyabut singkong, dan lain-lain. “Kalau kepleset (terjatuh) di kebun, biarkan, biar dia belajar, biar dia ngerti kata jatuh, kepleset, sakit. Bukan dengan cara menunjukkan kata-kata itu di kartu, melainkan praktik langsung,” ujarnya menegaskan.

Menurutnya, anak autis bukanlah robot. Sebab pada dasarnya anak autis sudah robotis. “Karena itu, saat mengajari mereka, bahasa dan intonasinya harus sedemikian rupa, jangan datar seperti mereka. Itu membuat mereka akan tambah jadi robot,” kata Ima.

Saat orangtua anak autis tidak ada, anaknya bisa jadi survive. Ini, menurutnya, karena peran para guru dan terapis. “Tangan kalian dipinjam untuk menangani mereka. Jangan menghianati panggilan Tuhan, dengan mengajar secara sembarangan. Hidup adalah menjalani karma dan menciptakan karma baru. Kalau kita bekerja untuk akhirat, dunia akan mengikuti,” pesan Ima kepada para peserta, yang kebanyakan berprofesi sebagai guru dan terapis itu.

Tian Arief

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai