Tag

, ,

Kantorku berlokasi di Jakarta, tapi bukan langganan banjir Ciliwung. Ciliwung berada jauh di “belakang”; berjarak sekitar 1 kilometer, dan posisi kantorku cukup tinggi, sebab berlokasi di Jakarta Selatan.

Tapi hampir setiap hujan besar, jalan depan kantor -yang lebarnya tak cukup untuk dua mobil berpapasan secara leluasa- kebanjiran. Dalamnya, bisa membuat motor jenis bebek atau matik mogok (kecuali motor sport, masih bisa bertahan). Yah, bagian terdalam sekitar 40 sentimeter.

Banjir itu berasal dari luapan selokan selebar 120 cm, persis di depan pagar kantor. Selokan itu mengalirkan air dari arah hulu, yang melewati permukiman warga, menuju ke danau TMP Kalibata.

Selokan itu sering meluap saat hujan deras, dimana debit air melonjak drastis, sehingga selokan sekecil itu, dengan kedalaman (dari permukaan jalan) satu meter lebih itu, tak mampu lagi menampung air kecoklatan itu.

Itu disebabkan di sebelah hilir (gorong-gorong penghubung ke danau Kalibata) menyempit, serupa leher botol (bottleneck effect). Apalagi kabarnya akses menuju danau itu ditutup, karena katanya sering membawa sampah ke danau, dan air dialirkan ke selokan yang melewati antara TMP Kalibata dan Apartemen Kalibata City.

Kembali ke banjir depan kantor… Saat terjadi genangan -yang saat tinggi-tingginya bisa masuk ke pekarangan kantor- kendaraan karyawan terpaksa harus nyebur ke banjir, kendati tidak jauh, karena jalan ke sebelah kanan agak menanjak.

Tapi, motor tua seperti motorku, terkadang tidak kedap air lagi pada bagian saluran isap (intake) karburator, atau kabel busi. Pernah sekali mogok, sekali terbatuk-batuk, dan sisanya bisa selamat melewati banjir, seperti terjadi semalam. Ah leganya.

Tapi tidak dengan penyebab banjir. Kami cuma bisa berharap pemerintah memperlebar saluran air di bagian hilir, agar tidak seperti efek leher botol yang menyempit itu. Mungkin perlu didorong lewat keluhan di surat pembaca, biar Pemkot Jaksel berbuat sesuatu. banjir_kantor2