Tag

, , , , , ,

Bermain-main di lapangan sekolah [Foto: Dinda Annisa]

Bermain-main di lapangan sekolah [Foto: Dinda Annisa]

Fay, 15 tahun, anak kami yang menyandang autistik, Ahad kemarin (28/4), tanpa membawa uang sepeser pun menempuh perjalanan dari Cibinong ke Penggilingan sendirian, dalam waktu 3 jam. Jarak antara kedua tempat itu lebih dari 50 kilometer. Dengan sepeda motor saja waktu tempuhnya 2,5 jam. Bagaimana bisa?

ITULAH pertanyaan yang hingga sekarang menggelayut di pikiran kami. Sepanjang sore, kami berkumpul di Penggilingan, rumah Apih (kakek)-nya Fay, untuk membicarakan “petualangan” Fay, pada Ahad siang itu. Ada Mamang (paman)-nya Fay, ada Bu Diana (guru pendamping Fay waktu SD), ada Bu Ida (kakak dari Bu Diana), dan dua bapak; Pak RT di tempat Bu Diana tinggal, dan seorang lagi tetangganya, serta kami Ayah dan Ibunya Fay, juga Fay sendiri.

Kami, para orang dewasa menceritakan bagaimana pengalaman dan kekhawatiran kami seharian itu, untuk mencari Fay yang lari dari rumah, saat berada atau dititipkan di rumah Bu Diana, yang sering kami titipi Fay. Selama ini, Fay sering dititip di rumah Bu Diana, biasanya dari Sabtu siang hingga Minggu sore, atau menginap semalam. Selama ini, ya baik-baik saja.

Karena kami tahu, dari sekian banyak guru pendamping yang pernah mendampingi Fay, Bu Diana lah yang paling sayang Fay. Kendati sekarang sudah tak lagi menjadi guru pendampingnya, karena ia sudah direkrut oleh sekolah sebagai guru anak berkebutuhan khusus, Bu Diana bersedia menjaga Fay, selama kami ada keperluan yang Fay tak memungkinkan untuk dibawa serta. Misalnya, sejak Apih sakit hingga meninggal dan pemakaman, Fay dititipkan di Bu Diana. Karena kami bisa membayangkan seandainya Fay tidak dititipkan, saat kami sibuk mengurus segala sesuatunya, Fay tidak ada yang memerhatikan.

Bagaimana kejadiannya?

Menurut penuturan Bu Diana dan Bu Ida, Fay di Minggu pagi, di rumah melakukan senam bersama. Fay mengenakan baju kaos lengan panjang warna cokelat dan celana panjang olah raga warna biru gelap. Nah, sehabis senam, mereka bermaksud sarapan. Fay ditawari, mau sarapan apa? Ternyata ia mau sarapan gado-gado.

Maka, Bu Diana pun pergi untuk membeli gado-gado, dan Fay dititipkan kepada Bu Ida. Di sana juga ada keponakan Bu Diana yang berusia 5 tahun. Menurut Bu Ida, saat itu ia mendadak ingin “ke belakang”. Setelah keluar dari kamar mandi itulah, Fay sudah tidak berada di tempat, entah ke mana. Waktu saat itu sekitar jam 9 pagi.

Singkat cerita, seisi rumah pun heboh. Apalagi tak seorang tetangga pun yang mengaku melihat Fay melintas. Padahal, selama ini, para tetangga Bu Diana bisa diibaratkan sebagai “pagar sosial”, karena semua mengenal Fay, dan menjaga Fay.

Pencarian pun dilakukan, dengan berjalan kaki menyusuri gang, dan dengan sepeda motor hingga ke pangkalan ojek dan Terminal Cibinong. Bahkan kata Pak RT, pencarian dilakukan di 5 kampung sekitar. Hasilnya nihil.

Hingga ada sedikit petunjuk, ketika ada seorang tetangga yang bilang, kalau Fay berlari ke arah proyek (perumahan) sekitar pukul 11.00. Saat itu waktu hampir menunjukkan jam 12. Tapi ketika ditelusuri rute yang kira-kira ditempuh Fay, hasilnya tetap nihil.

Kepanikan pun makin menjadi. Bahkan Bu Ida, katanya, sampai pingsan 3 kali, karena merasa bertanggung jawab atas hilangnya Fay. Demikian pula Bu Diana, yang memutuskan akan melapor kehilangan Fay ke kantor polisi (tapi kemudian tidak jadi melapor).

Kabar hilangnya Fay sampai ke telinga kami

Sekitar pukul 12 siang ada misscall dari Bu Diana ke HP Ibunya Fay, yang Ahad itu sedang berada di rumah, di Sasakpanjang. Tapi begitu ditelepon balik, HP diangkat, namun tak ada jawaban. Lalu aku menelepon Bu Diana memakai HP-ku, diangkat Bu Diana, yang kedengarannya sedang menangis. Aku pun jadi nggak enak hati, ada apa ini?

Sambungan terputus, lalu aku coba telepon lagi Bu Diana. Dijawab. Ia hanya berkata singkat, “Pak, mohon datang ke Cibinong.” Tak ada penjelasan lebih lanjut. Telepon pun ditutup. Lalu aku melapor ke Ibunya Fay.

“Yah, pergi aja sendiri ke Cibinong, takut ada apa-apa,” pesan istriku.

Tapi aku masih penasaran, ada apa ini? Aku kembali menelepon Bu Diana, yang dijawab dengan nada lemas. Aku terus mendesak, ada apa dengan Fay? Lalu keluarlah jawaban, bahwa Fay hilang dari rumah.

“Deggg! Serasa jantung hampir copot dan serasa langit hampir runtuh! Astaghfirulloh!”

Betapa tidak, Fay sekarang sudah gadis remaja. Penampilan fisiknya tak ubahnya seorang wanita dewasa, namun dengan jalan pikiran anak-anak. Bahkan, untuk menjawab pertanyaan pun belum tentu jelas atau dimengerti si penanya. Kemampuan verbal Fay memang masih minim, masih sebatas mengungkapkan keinginannya sendiri.

Bagaimana kalau kenapa-napa di jalan?
Bagaimana kalau ada orang yang menculiknya?
Naudzubillahi mindzalik!

Tapi aku tetap berusaha menenangkan diri. Adzan dzuhur pun berkumandang. Kami memutuskan untuk menjalankan shalat dzuhur sekalian dijama’ (digabung) dengan ashar. Karena kami kira ini akan menjadi “hari yang panjang.”

Selepas dzuhur, HP-ku berdering. Ternyata dari Mamangnya Fay di Penggilingan. Dia menanyakan posisi kami di mana. Setelah dijawab kami berada di Sasakpanjang, dia pun kaget.

Katanya, “Fay ada di Penggilingan. Dia datang sendirian ke sini!”

Ya Allah, alhamdulillah. Wasyukurillah. Itulah yang terpikir pertama kali olehku, kendati sejumlah pertanyaan menggelayut di pikiranku; bagaimana dia bisa sampai ke sana?

Tapi pertanyaan itu sementara kami tepis. Yang penting, kami segera ke Penggilingan untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Aku segera menelepon Bu Diana, mengabarkan kalau Fay sudah ditemukan; di Penggilingan! Motor Tornie pun kukeluarkan, dan kami berboncengan ke Penggilingan. Waktu tempuh ke sana sekitar 2,5 jam.

Tidak percaya

Dalam perjalanan ke Penggilingan, kami membahas, bagaimana kemungkinan Fay bisa mencapai Penggilingan. Ada beberapa kemungkinan, yang semuanya bermuara di pertanyaan “bagaimana bisa?”.

1. Opsi paling mungkin (meski ujung-ujungnya timbul pertanyaan seperti di atas), adalah dengan berjalan dan berlari. Fay mudah sekali menghapal rute. Selama dibonceng di sepeda motor, Fay selalu melihat-lihat rute yang dilaluinya. Sewaktu kecil, dia selalu mengoreksiku, kalau perjalanan kami tak sesuai rute yang biasa. “ke kiri!” atau “ke kanan!”, atau “ke situ!” serunya.

Dengan rute Cibinong-Penggilingan yang sudah dia hapal, dia berlari menyusuri jalan raya, hingga tiba di Penggilingan. Tapi timbul pertanyaan:
– Bagaimana bisa menempuh jarak Cibinong-Penggilingan dengan berlari hanya dalam waktu 3 jam?
– Apa dia tidak cape di jalan untuk berhenti atau minum. Padahal, dia tak membawa bekal minuman atau pun uang untuk membeli minuman. Bahkan cara berbelanja/bertransaksi aja dia belum tahu?
– Bagaimana bisa dia melewati banyak perempatan besar (seperti Pasar Cibinong, Pasar Rebo, PGC, Cawang, dan lain-lain), padahal dia tak bisa menyeberang jalan sendirian?
– Menurut Mamangnya, ketika tiba di Penggilingan dengan berlari (kata saksi mata, tukang kios depan rumah), dia sama sekali tak kelihatan berkeringat banyak hingga membasahi bajunya. Keringat dia sedikit saja, di hari yang terik itu. Padahal, rute yang dia baru tempuh, lebih dari rute lari marathon (42 kilometer sekian). Pelari marathon saja bisa mandi keringat.

2. Naik kendaraan umum. Bagaimana bisa dia menyetop bus, memberhentikannya, dan menghapal nomor bus? Padahal dia belum bisa caranya. Belum bisa verbal, atau bicara pada orang lain dengan jelas atau bahasa yang mudah dipahami.

Kalau naik kendaraa umum dari Cibinong hingga Penggilingan, bisa lebih dari 5 kali ganti kendaraan, mulai dari ojek, mikrolet/angkot, sampai bus. Bagaimana bisa?

3. Ada yang mengantar. Pertanyaan besarnya, siapa?

Ketidakpercayaan ini muncul dari Bu Diana dan saudara-saudaranya. Mereka bahkan tidak memercayai yang tiba di Penggilingan itu benar Fay, sebelum mereka membuktikannya sendiri.

Maka, mereka pun dengan mengendarai 2 motor, mendatangi Penggilingan –daerah yang sama sekali baru bagi mereka, dengan menempuh 2,5 jam perjalanan.

Setelah bertemu langsung Fay, barulah mereka percaya itu Fay, tapi –lagi-lagi– pertanyaannya sama seperti kami, bagaimana bisa?

Untuk mengobati rasa penasaran warga kampung lainnya yang tidak turut serta ke Penggilingan, sekaligus sebagai bukti bahwa itu Fay, Fay dan Bu Diana pun difoto dengan kamera HP.

Pengakuan Fay

Kendati susah ditanya, Fay mau juga bicara atau menjawab pertanyaan kami, tentang bagaimana dia bisa tiba di Penggilingan. Jawabnya: “Berjalan, berlari, naik bis, naik mikrolet, sendiri.”

Ketika ditanya, dengan siapa Fay ke Penggilingan, dijawabnya: “dengan Fay!” (Maksudnya, dia sendirian).

Terus terang, susah untuk memercayai kebenaran pengakuan tersebut, tapi begitulah katanya. Dia sendiri yang mengatakannya.

Pada akhirnya, kami mengucap syukur pada Sang Maha Pelindung, yang telah melindungi Fay selama perjalanan, hingga tiba di Penggilingan tanpa kurang satu apa pun. Kami meyakini, ada Dia –mungkin dengan mengutus malaikat penjaga, untuk menjaga Fay selama perjalanan. Tidak ada yang tidak mungkin bagiNya. Subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar!

Hikmah

Hikmah dari kejadian ini, kami harus lebih memperhatikan Fay, lebih waspada, lebih care, lebih menyayanginya, agar kejadian ini tidak terulang lagi. Kami tak mau berharap keberuntungan untuk kedua kalinya. Mudah-mudahan kejadian ini pertama kali dan satu-satunya. Aamiin.