biopori1
Sudah lama aku mendengar soal Biopori ini. Tapi baru tergerak sekarang ini, setelah mendapati kenyataan, air hujan di halaman belakang yang “seuprit” (1,5 x 4 m) tak mau meresap ke dalam tanah. Yang ada, saat hujan sangat deras, airnya melimpah membanjiri dapur dan sumur.

Apa itu Biopori? Menurut http://www.biopori.com, Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme di dalamnya, seperti cacing tanah, rayap, atau perakaran tanaman. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara, dan menjadi tempat meresapnya air (hujan) ke dalam tanah. Sehingga, singkat cerita, lubang-lubang Biopori ini bisa mencegah terjadinya aliran air di atas permukaan tanah alias banjir, saat terjadi hujan deras.

Di hutan yang masih bagus ekosistemnya (tidak gundul), sebagian besar air hujan yang jatuh di permukaan lantai hutan akan meresap ke dalam tanah. Ini dimungkinkan karena di hutan terdapat banyak serasah alias bahan organik yang terumpuk di permukaan tanah. Bahan organik ini menjadi pakan (sumber energi) bagi berbagai fauna tanah (cacing dkk) untuk melakukan aktivitasnya, termasuk membentuk biopori.

Nah! Ekosistem semacam ini bisa kita tiru di halaman rumah kita dengan membuat lubang vertikal ke dalam tanah. Lubang-lubang itu selanjutnya diisi bahan organik, seperti sampah-sampah organik rumah tangga (sampah basah), potongan rumput, bahan vegetasi lainnya. Bahan organik ini akan dijadikan sumber energi bagi cacing tanah, yang membuat aktivitas mereka meningkat. Seiring dengan peningkatan aktivitas mereka, maka akan semakin banyak terbentuk biopori.

Teman-teman dari Institut Pertanian Bogor (IPB), pemrakarsa Lubang Resapan Biopori, menyebutkan bahwa lubang vertikal yang kita buat, dengan biopori yang terbentuk (oleh para cacings), sekaligus menjadi lubang peresapan air artifisial (buatan) yang relatif murah dan ramah lingkungan.

Itu dia! MURAH adalah kata kuncinya. Kebetulan aku punya “ponakan” yang kuliah di IPB, Zaza (www.syamsazahra.blogspot.com). Ia menawarkan diri untuk meminjamkan bor biopori punya temannya di IPB. Ahad kemarin (31/3). aku langsung meluncur ke Dramaga Kota Bogor, untuk meminjam alat bor sepanjang 120 cm itu. FYI, kalau mau beli alat bor itu, bisa langsung datang atau mengontak tim Biopori IPB di Kampus Dramaga Bogor (cek di http://www.biopori.com).

Begitu tiba di rumah dengan alat itu, pada Ahad sore, aku langsung praktek membuat Lubang Resapan Biopori. Lumayan juga perjuangan ngebor non-Inul itu, karena jenis tanah di tempatku adalah tanah merah yang keras. Selain itu, tak ditemukan seekor cacing pun dari dalam tanah. Pantas saja air hujan susah sekali meresap.

Akhirnya, dalam waktu 2 jam dengan susah payah –dibantu Fay yang bertugas membersihkan mata bor dengan kape, setiap kali bor diangkat– aku baru berhasil bikin satu lubang. Sepertinya perlu sekitar 10 lubang nih. Wah… pekerjaan berat menunggu di rumah, di sela-sela ngantor. Wish me luck ya!๐Ÿ˜€

biopori2biopori3biopori4biopori5biopori6biopori7biopori8
Foto-foto: monsterilmiah.blogspot.com, tianarief, dan efinfintiana