Tag

, ,

Kalau pertanyaan itu sekarang ditujukan pada saya, jawabannya: “Yes, I’m happy now. Sudah mandi wangi, tinggal tidur aja. Sementara menunggu kantuk (terutama Fay, yang belakangan ini susah tidur cepat-cepat), aku menemani Fay sambil nulis blog ini. Sederhana kan?

Sesederhana rakyat Bhutan. Bhutan, bukan hutan. Ngomong-ngomong, anda pernah mendengar nama negara ini? Jika belum, Bhutan adalah sebuah negara kerajaan kecil di Asia Selatan, antara India dan Republik Rakyat Cina. Nama lokal negara ini adalah Druk Yul, artinya “Negara Naga”. Karena itu, bendera negara ini bergambar naga.

Nah, yang unik dari negara ini adalah sebanyak 97 persen masyarakat Bhutan merasa dirinya senang atau bahagia. Yang istimewa, kebahagiaan ini bukan berasal dari pemuasan hasrat materi, melainkan keyakinan dan kesadaran merasa puas dengan nasib mereka.

Orang Bhutan beranggapan bahwa kemiskinan yang sesungguhnya adalah sama sekali tidak berdaya untuk bersedekah (berbagi) kepada orang lain. Asalkan memiliki ladang dan rumah, mereka sudah sangat puas. Simpel bukan?

Berbeda dengan keseharian kita di Indonesia tercinta ini, yang segala sesuatunya diukur dengan materi (kuantitas), bukan kebahagiaan/happiness (kualitas).

Yang namanya keinginan manusia akan pemenuhan kebutuhan materi, nggak bakal ada batasnya. Misalnya, ingin punya rumah, ingin rumah yang ada jadi bagus, ingin di halaman terparkir kendaraan roda empat, dan keinginan-keinginan yang tiada batas.

Oya, hal menarik dari negeri Bhutan ini adalah dilarangnya rokok di seluruh negeri dan kantong kresek, dengan alasan lingkungan (sumber: “Spotlite” Trans7).

Yang bikin salut dari Bhutan ini adalah kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup. Setiap orang setiap tahunnya, menanam setidaknya 10 batang pohon. Hutan perawan di negeri “Swiss dari Asia” ini mencakup 72 persen dari seluruh wilayah, sehingga menduduki urutan nomor satu di Asia. Sementara 26 persen lahan di seluruh negeri merupakan taman negara.

Bhutan memiliki aneka ragam pepohonan di hutan, kayunya bermutu tinggi, yang tersimpan kira-kira 670 juta meter kubik. Di negeri ini tidak terjadi penebangan liar. Mereka mengeksploitasi hutan dengan memenuhi kelayakan secara ilmiah. Untuk memelihara lingkungan dan kebudayaan, mereka rela “kurang mendapat keuntungan” dari sumber daya alam yang sangat kaya raya itu. Pemicunya ya itu, mereka tak mengejar angka, melainkan kesenangan atau kebahagiaan.

Jadi, kata “korupsi” mungkin menjadi kosa kata yang sama sekali asing di negeri ini. Makanya, tak mengherkan kalau negeri ini dijuluki “Taman Firdaus Dunia”. Selengkapnya, silakan baca-baca di sini.🙂

Bhutan dalam gambar:

Image

Kota Punakha, tempat kantor pemerintahan Distrik Punakha (1310 meter di atas permukaan laut). Terletak di tempat pertemuan Sungai Po dan Mo. (GETTY IMAGES/AFP)

Image

KIRI: Gedung parlemen. KANAN: Wangdue Phodrang Dzong (1.800 meter di atas permukaan laut), yang berjarak 21 kilometer dari Punakha. Tempat ini terkenal dengan karya seni dari bambu dan ukir-ukiran. (GETTY IMAGES/AFP)