Tag

, , , , ,

Sewaktu mahasiswa dulu di akhir 1980-an, kami pilih-pilih kalau makan siang. Bukan pilih-pilih menu yang enak-enak, tapi pilih-pilih yang paling murah. Salah satu warung yang sesuai dengan ukuran kantong kami, ya warung Bu Tunduh (tunduh = ngantuk, Bahasa Sunda).

Makan di warung tenda Bu Tunduh, yang lokasinya depan sebuah lembaga penelitian milik Unpad di pertigaan Jalan Dipatiukur-Jalan Singaperbangsa Kota Bandung itu, kami cukup mengeluarkan Rp 300, perut pun kenyang.

Menu yang kami pilih terbilang (sangat) sederhana. Sepiring nasi plus sepotong tempe atau tahu, dan kuah gulai/gule. Nah, di sini “seninya”. Saat kami mengorder nasi plus kuah gule, Bu Tunduh tak segan-segan mencentong dalam-dalam, hingga bubuk-bubuk daging tetelan dari gulenya terbawa. Padahal, kami kan tidak memesan gule –yang harganya tentu cukup mahal.

Bu Tunduh memang selalu ngerti aspirasi kita-kita.😉

Catatan: Kami tak tahu nama sebenarnya ibu warung yang kini sudah sepuh itu. Kami menjuluki Bu Tunduh, karena rona wajahnya (selalu) seperti orang ngantuk.

[Foto: Bu Tunduh sekarang; punya warung sendiri]