Efin Fintiana

Duluuu, ketika TVRI belum ada saingannya, ada program Bahasa Indonesia yang  diasuh oleh Prof Dr JS Badudu, dosen di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran, Bandung.

Aku suka program ini. Entah mengapa, padahal pelajaran Bahasa Indonesiaku di sekolah biasa-biasa saja.😀 Mungkin Pak Yus Badudu –demikian ia biasa dipanggil– pandai membawakannya dengan menarik atau karena memang waktu itu TVRI satu-satunya stasiun TV yang ada, jadi ya.. yang dipantengin cuma itu saja. Hehehe. ;))

Ada satu bahasan yang diuraikan oleh Pak Badudu yang masih kuingat sampai sekarang, Waktu itu Pak Badudu membahas secara khusus satu peribahasa yang jarang terdengar, dan sampai sekarang pun tidak populer. Bunyi peribahasa itu: Biduk Lalu Kiambang Bertaut.

Biduk, seperti kita tahu, adalah perahu kecil. Sedangkan kiambang (kayambang, Bhs Sunda) adalah sejenis tanaman air yang mengambang di permukaan rawa, danau, atau sawah.

Menurut Pak Badudu, peribahasa ini mengandung makna, saat dua saudara kandung bertengkar, setelah masalahnya selesai, mereka…

Lihat pos aslinya 56 kata lagi