Tag

, , , ,

Menerangkan hal yang rumit dengan bahasa simpel [Foto: Irwansyah/Ruhama]

 

Kebayang nggak sih, sama anak-anak seusia Fay, termasuk sama Fay sendiri, aku manggil “teman-teman”? Itu terjadi waktu mengajar IPS di kelas gabungan 6 Al Hadid dan 6 Al Fajr SDIT Ruhama Depok, membicarakan topik “Globalisasi Teknologi Informasi.” (Aku mengajar dimintai tolong sama guru IPS-nya Fay).

Topik aktual yang berat itu, aku usahakan seringan mungkin, dengan cara bercerita plus gambar-gambar dari power point, biar bisa dicerna anak-anak. Aku sendiri memanggil diri sebagai “Pak Tian” (keterlaluan, kalau memanggil diri pake embel-embel “Kak”, “Bang”, “Mas”, atau “Kang”). Selisih usia saja lebih 30 tahun. Lagipula, mereka kan teman anakku, Fay.

Respon yang tak terduga, terlontar dari seorang “teman kecil” ikhwan (laki-laki), waktu aku menunjukkan gambar Hieroglyph, tulisan Mesir Kuno yang digunakan sebagai bahasa simbol pada pahatan batu.

“Pak, itu artinya apa?” tanya seorang anak laki-laki.

“Oh, saya tidak tau. Itu bahasa Mesir Kuno,” jawabku spontan.

Hieroglyph pada pahatan batu [zeithmind.blogspot.com]

*Hayo, siapa di antara pembaca blog ini yang mengerti bahasa Mesir Kuno?

Selanjutnya, cerita bergulir mulai dari teknologi telekomunikasi kuno berupa asap yang digunakan orang Indian, telegraf, telepon, hingga internet.

Nah, bicara soal internet, aku analogikan “dunia maya” itu seperti kita memasuki hutan belantara. (Aku tanya “teman-teman”, apakah ada yang pernah ke hutan. Beberapa anak laki-laki mengacungkan tangan).

Aku jelaskan kalau memasuki dunia maya itu perlu seorang pendamping (ayah dan bunda masing-masing). Sebab kalau tidak, kita bisa tersesat atau mengalami bahaya.

Lalu, pelajaran IPS dengan guru tamu itu diakhiri dengan permainan. Permainnya berupa pesan berantai (kelas dibagi ke dalam empat kelompok), dan menggunakan pesawat telepon benang (dari tabung bekas botol plastik air mineral yang diberi membran bekas kantor kresek), dengan benang sepanjang delapan meter.

Intinya, aku ingin menunjukkan, kalau berkomunikasi menggunakan alat “telekomunikasi” (telepon benang), lebih mudah menyampaikan pesan ketimbang menggunakan cara tradisional dari mulut ke kuping (pesan berantai). Dan anak-anak mengakuinya. “Gampangan pake telepon, Pak!” ujar anak-anak, seusai permainan.

Pelajaran satu jam lebih itu pun diakhiri, dan aku berangkat ke kantor dengan mengantongi satu lagi “jam terbang” mengajar. [SMP sudah, SD sudah. Tinggal SMA dan mahasiswa ] .

Catatan: satu yang menarik, ternyata para akhwat (anak perempuan), cenderung lebih memerhatikan pelajaran ketimbang para ikhwan yang lebih banyak becanda.

Keterangan:

Tulisan ini repost tulisan 6 Februari 2011 di Blogspot