Selama ini perajin tempe di Indonesia mengandalkan dua sumber pasokan tempe; lokal Indonesia (sekitar 40 pesen), sisanya terbanyak diiimpor dari Amerika Serikat.

Nah, saat pasokan tempe dari Amrik –yang ukuran kacangnya relatif lebih besar dan lebih disukai perajin tempe– tersendat akibat terjadi hambatan di sana.

Padahal, Jonathan Agranoff, seorang pakar tempe dari Inggris, justru mengatakan sebaliknya. Menurut pemilik laman http://www.tempeh.info itu, penggunaan kedelai lokal Indonesia sebagai bahan baku pembuatan tempe, justru lebih menguntungkan ketimbang bahan baku (kedelai) impor.

“Bukan hanya bergizi tinggi, bentuknya bagus, dan rasanya lebih enak, secara ekonomi, kedelai lokal untuk bisnis pengrajin tempe lebih menguntungkan dari pada menggunakan kedelai impor,” kata Jonathan, dalam diskusi bertajuk “Memble Tanpa Tempe”, di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (28/7).

Ia sendiri sudah membuktikannya, lewat uji coba pembuatan tempe menggunakan kedelai jenis lokal Indonesia, asal Jasmoro dan Grobokan.

“Produksi 1 kilogram kedelai impor menghasilkan 1,59 kilogram tempe, tapi menggunakan kedelai Jasmoro menghasilkan 1,74 kilo tempe. Jadi secara ekonomi, kacang lokal lebih menguntungkan dari sisi bisnis,” tandasnya.

Menurutnya, Indonesia memiliki lebih dari 14 jenis kedelai lokal dan banyak pakar umbi-umbian di balai penelitian yang tersebar di seluruh pelosok negeri dan mampu menghasilkan penelitian umbi-umbian dan kacang-kacangan untuk menggenjot produksi nasional.

“Pakar-pakar yang banyak juga di pelosok-pelosok balai penelitian di Indonesia. Menurut saya, belum dihargai dan hak paten secara penuh,” ungkapnya.

Jadi, Indonesia sebenarnya masih punya peluang untuk lebih mengandalkan kedelai lokal daripada impor. Tapi, sebagaimana dikatakan pengamat kebijakan publik Ichsanuddin Noorsy, perlu adanya keseriusan pemerintah untuk memajukan pertanian, yang mengalami banyak kendala. Di antaranya, keterbatasan lahan (banyaknya konversi lahan pertanian ke bidang industri dan perdagangan), dan insentif bagi para petani (selama menunggu masa panen, mereka tidak punya uang. Jadinya, mengandalkan pengijon).