Saat berkumpul keluarga di hari Idul Fitri, kadang kami suka iseng menimbang badan, dan membandingkannya dengan sebelum Ramadhan. Ternyata, berat badan kami rata-rata mengalami kenaikan 1 sampai 3 kilogram. Kenapa bisa begitu?

Nah, sekarang aku balik bertanya. Apakah selama berpuasa di bulan suci Ramadhan kita banyak mengonsumsi makanan mengandung gula, semisal kolak pisang, biji salak, kolak labu, sekoteng, manisan, teh manis, sirup, dan makanan mengandung gula lainnya?

Inilah jawabannya: penyebab kenaikan berat badan itu adalah makanan dengan kadar gula tinggi, yang dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Saat berbuka, kadar gula darah kita sangat rendah. Untuk itu, menurut seorang dokter ahli gizi klinis, Samuel Oetoro, metode berbuka dengan makanan manis boleh dilakukan. Namun, diimbau agar tidak mengonsumsi manisan yang “jahat”, seperti contoh makanan mengandung gula yang dipaparkan di atas (kolak dkk).

Ia menyarankan agar berbuka diawali dengan mengonsumsi buah yang kadar airnya banyak, seperti semangka, melon, dan jeruk.

“Selesai sholat tarawih, barulah mengonsumsi makanan karbohidrat kompleks (seperti nasi), supaya waktu puasa cadangan banyak. Tetapi konsep makan sehat tetap harus dijaga, yaitu tanpa lemak dan gula ‘jahat’,” pesan Samuel, dalam konferensi pers menyambut Ramadhan 2012, di Jakarta, Selasa (17/7).

Menurutnya, ada empat aspek yang harus dipahami selama puasa. “Saya membaginya menjadi 4J, yaitu jumlah, jadwal, jenis, dan jurus masak. Jadwal yaitu bagaimana mengubah pola makan dari 4 kali sehari menjadi hanya dua kali sehari. Jenis adalah bagaimana kita memilih makanan yang tepat untuk menjaga kadar gula tubuh tetap stabil,” paparnya.

Tak boleh “balas dendam”

Menurutnya, muslim yang menjalankan puasa perlu melakukan pemilihan makanan sahur, agar gula darah tidak cepat turun dan tubuh tidak cepat merasakan lapar. Menurutnya, kalau memilih makanan dengan kadar gula yang tinggi, maka kadar gula darah cepat turun dan menjadi lemas karena tidak tahan lapar.

“Dari segi jumlah, makanan tidak boleh dikurangi, jadi asupan yang masuk ke tubuh tetap. Akan tetapi tidak boleh menerapkan “konsep balas dendam”. Jadi jumlah ketika puasa dan tidak puasa harus sama,” ujar Samuel.

Samuel juga tidak menganjurkan untuk menerapkan “pola balas dendam” ketika berbuka. Menurutnya, hal itu akan membuat kadar gula dalam tubuh menjadi sangat tinggi, efeknya justru dapat membuat tubuh menjadi gemuk.

“Jurus masak, yaitu untuk menentukan makanan yang dimakan selama bulan puasa. Ketika sahur, jenis makanan yang dimakan harus dalam porsi yang besar, tetapi dengan karbohidrat lengkap, dan sumber protein dan lemak yang cukup. Jangan terlalu banyak makan gorengan, karena dapat membuat tubuh menjadi cepat haus. Selain itu, terlalu banyak protein juga dapat membuat tubuh menjadi cepat haus,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sekitar 10 menit sebelum imsak, kita dapat memasukkan sumber gula ke dalam tubuh. Akan tetapi, gula di sini bukanlah gula pasir, tetapi gula yang berasal dari buah dan sayur yang berserat. Hal ini dikarenakan buah mengandung karbohidrat kompleks yang pelan-pelan diserap oleh tubuh.

“Jadi, naik dan turunnya perlahan-lahan. Sehingga kadar gula darah tetap stabil dan bisa menahan lapar,” jelasnya.

Selanjutnya, ketika sahur harus minum 4 gelas air, untuk menjaga agar tubuh tidak kekurangan air. Dan ketika berbuka dilanjutkan dengan 4 gelas air.

Tentu anda yang lebih mengenali tubuh anda sendiri. Soal saran dari dokter tadi, mau dipraktekkan … mangga, silakan. Nggak juga, nggak apa-apa.

Image: blog.e-cigarettedirect.com