Coba anda bayangkan, baut ukuran mur 10 sepanjang 4 cm, dengan diameter 0,5 cm seperti pada gambar, mampu menusuk ban belakang motorku. Padahal ujung baut itu sama sekali tidak tajam.

*Kalau tajam, namanya sekrup (berulir), atau paku.

Tadi siang, sewaktu melewati jalan Pabuaran yang berhotmix mulus, tiba-tiba ada bunyi “Blep!” keras sekali dari ban belakangku. Memang, aku sekilas sempat melihat benda kecil yang tergilas ban motorku.

Kira-kira beberapa puluh meter kemudian, ban belakang motorku langsung kempes. Aku segera menghentikan laju motor, dan segera memeriksa telapak ban belakang yang kempes itu.

Ternyata, tampaklah kepala baut menancap di telapak ban. Baut itu susah sekali dicabut, sampai memerlukan bantuan kawat untuk melepasnya. Ternyata begitu dicabut, baut itu panjang sekali. Kira-kira ada berapa lubang yang musti ditambal ya?

Bulatan di telapak ban, bekas tertusuk baut

Tapi tenang. Kalau  pun ban dalamnya perlu diganti, aku selalu siap dengan ban dalam cadangan. 

Setelah menuntun motor kira-kira 500 meter, aku menemukan tukang tambal ban, dan ban bocor itu pun ditangani si Lae.

Ternyata bocornya hanya satu lubang. Syukurlah. Mungkin karena aku langsung menghentikan motor begitu terasa kempes. Kalau tidak, bisa koyak-koyak itu ban dalam.

Menurut tukang tambal itu, seandainya ini ban tubeless, dipastikan tak bisa ditambal lagi alias ban tubeless itu tak bisa diselamatkan. Maklum saja, diameter baut itu 0,5 cm alias setengah senti. Sedangkan jara tubeless kan cuma 1 – 2 milimeter diameternya. Jadi, bolongnya kegedean.

Tenang. Ban belakang matikku itu sekarang bukan tubeless lagi, karena sudah difungsikan seperti ban biasa (pakai ban dalam). Jadi bisa dipakai sampai gundul kembangannya. Hehehe.