Jadi peliput bidang otomotif nggak jauh-jauh dengan urusan test drive alias menjajal produk baru mobil. Aku, yang statusnya hanya wartawan pengganti atau “pengganjal” saat yang lain sibuk dengan acaranya sendiri, alhamdulillah beberapa kali kebagian mengikuti test drive dari beberapa APM (agen pemegang merek).

Pertama, waktu mengetes GPS yang dipasangkan pada Honda Freed dan Honda CRV, dengan rute Jakarta-Bandung-Jakarta, lebih setahun lalu. Semuanya ada 10 mobil; 5 Freed dan 5 CRV. Berhubung kedua mobil honda itu bertransmisi matik, sedangkan aku bisanya nyetir yang bertransmisi manual, aku putuskan untuk menjadi penumpang saja. Padahal pihak humas PT HPM sudah menawariku untuk membawa salah satu CRV. Tapi aku lebih memilih duduk di kursi penumpang saja.

Kedua, waktu test drive All-New Toyota Avanza ke Sumatera Barat, belum setahun lalu, atas undangan PT TAM. Sepuluh unit Avanza wajah baru (1.3 manual, 1.3 matik, 1.5 manual, 1.5 matik) dites oleh belasan wartawan, dengan rute Padang-Bukittinggi-Payakumbuh-Lembah Harau PP. Kali ini aku ikut menjajal, pas dapat giliran Avanza tipe 1.3 manual. Itu pun tak jauh, dari Bukittinggi ke Padangpanjang (40 kilometeran).

Setelah itu kemudi diambilalih sama wartawan-wartawan muda, yang mengemudi dengan gaya angkot mengejar setoran. *Mungkin aku terlalu tua untuk dibawa kebut-kebutan.

Nah, yang ketiga, test drive All-New Ford Focus di Krabi, Thailand, beberapa hari lalu. Entah kenapa, si bos memilihku untuk berangkat ke sana. Mungkin ini sudah rezekiku. Kebetulan, paspor baru dibikin beberapa bulan sebelumnya, atas biaya kantor. Karena Thailand sesama negara ASEAN, aku cukup mengirimkan scanning NPWP via humas PT FMI sebagai pengundang. Jadilah bebas visa.

Jauh-jauh hari, bosku memintaku membuat SIM internasional. Katanya, biar bisa turut merasakan test drive di negeri gajah putih itu. Karena berdasarkan pengalamannya test drive All-New Ford Ranger, rute test drive merupakan rute antar-kota. Artinya, memasuki jalan umum yang terikat aturan lalu lintas, tak hanya di areal pabrik.

Tapi aku tak menuruti permintaannya membuat SIM internasional. Terus terang, males juga bikin SIM yang hanya berlaku setahun dan (kemungkinan besar) hanya dipakai sekali itu. Kalau pun tak diperbolehkan bawa mobil di sana, aku sih pasrah saja.

Ternyata saat perjalanan dari Bandara Internasional Krabi (1,5 jam penerbangan dari Bangkok, dan Bangkok 3 jam penerbangan dari Jakarta), aku iseng tanya sama bos PT FMI, yang dijawab dengan cueknya; “Ah nggak perlu pake SIM internasional segala.” Aku cuma melongo.

Di hari kedua di Thailand (Senin, 9/7), test drive pun dimulai. Setelah sekitar 3 jam presentasi dan briefing di hotel, kami pun dibawa ke deretan mobil baru Ford Focus yang akan dites. Berhubung satu mobil diisi dua wartawan, dan teman satu mobilku belum mahir menyetir, jadi urusan menyetir sepenuhnya diserahkan padaku.

Masalahnya, Ford Focus (sedan maupun hatchback) transmisinya otomatik. Aku kan sama sekali belum pernah menyetir mobil matik? Tapi aku tak mau bilang terus terang, melainkan pede aja. Begitu kulongok ke dalam kabin, di tongkat persneling, selain fungsi-fungsi P, R, N, D, juga ada S. Apa itu S? Aku tanya saja pada wartawan yang sudah biasa melakukan test drive. Ternyata S itu sport. Maksudnya, untuk mengemudi bergaya balap atau lebih cepat dari biasanya.

Setelah ada aba-aba dari team leader untuk test drive hari itu lewat handy talkie, kami pun berangkat untuk menempuh rute Sheraton Hotel-Thanbok Khoranee National Park-Nop Ping SAO-Borsaen Villa-Plai Pharaya-Super Highway 44-Sheraton Hotel. Total jarak yang akan kami tempuh tak kurang dari 255,4 kilometer!

Berdasarkan brosur “Media Drive Route”, panitia lokal Thailand sudah menetapkan pergantian sopir sebanyak 4 kali, mengingat jauhnya jarak tempuh test drive itu. Sedangkan aku, berhubung teman perjalanan tak pandai nyetir, yang seharusnya sopir berganti-ganti, aku tekel sendiri.

Ternyata benar kata orang-orang, kalau membawa mobil matik itu jauh lebih mudah daripada mobil manual. Aku yang baru 25 tahun memegang SIM A dengan mobil manual, tentu harus pede membawa matik yang katanya lebih simpel. Alhamdulillah, dalam hitungan menit, aku sudah nyaman berada di dalam mobil kelas small-medium sedan itu (sekelas Corolla Altis dan Honda Civic).

Ternyata, konvoi yang dipandu mobil patroli polisi dan mobil panitia, serta mobil logistik, fotografer/videografer, plus tim kesehatan itu, tidak berjalan dengan kecepatan sedang, seperti dibilang team leader –seorang pria Thai usia 60-an, yang berlaku seperti instruktur mengemudi mobil itu.

Rombongan berjalan dengan kecepatan di atas 100 kilometer per jam! Padahal jalan yang digunakan jalan umum biasa. Bedanya dengan Indonesia, kelas jalannya kelas 1 (sekelas jalan tol Jagorawi). Pemakai jalan lain cenderung lebih tertib. Mungkin karena konvoi kami menggunakan vorijder sedan polisi. Yang tampak ajaib, pengendara sepeda motor meluncur manis di bahu jalan, sama sekali tak ingin jadi saingan mobil, seperti biasa terjadi di Jakarta.

Jarum di speedometerku menunjukkan angka 120 kpj, tapi mobil di depanku terpaut cukup jauh. Aku mengimbanginya dengan menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil 2000 cc 170 tenaga kuda itu pun ngacir.

*Selesai test drive yang cukup membangkitkan adrenalin itu, iseng-iseng aku tanya soal kecepatan saat konvoi. Temanku ada yang menjawab 140 kpj dan 150 kpj. Pantas aku sering tertinggal oleh mereka. Dan menurut Pak B, bos PT FMI, yang juga mendampingi test drive oleh para dealer seJabodetabek pada hari berbeda, kecepatan yang dicapai peserta ada yang mencapai 200 kpj! Hingga si pak tua team leader yang dijuluki “si opa” itu pun berteriak-teriak lewat HT, agar si tukang ngebut itu memperlambat laju kendaraannya. “Hei, no speed! No speed!” Alhamdulillah, semuanya berjalan aman dan lancar.