Waktu transit di Bandara Suvarnabhumi Bangkok menuju Krabi, aku sempat panik sendiri, karena ketinggalan rombongan.

Gara-garanya, tertahan petugas scanner barang yang meminta mengeluarkan laptop dari koper. Padahal, laptop itu terkemas rapi dalam koper, di antara tumpukan baju, dan bagian luarnya sudah diikat oleh petugas Angkasapura di Bandara Soekarno Hatta, pakai tali plastik pengikat yang pipih. Ada-ada aja.

“Computer out! Computer out!” seru petugas, seorang perempuan muda, dengan dialek Thai.

Aku terpaksa melepaskan dulu ikatan plastik, lalu membuka koper, dan mengeluarkan laptopnya. Sedangkan barangku yang lain; tas pinggang berisi paspor dll, dan ransel berisi kamera sudah meluncur di ban berjalan scanner barang itu.

Setelah selesai memasukkan kembali laptop, rombongan –para wartawan dan petinggi dari sebuah perusahaan otomotif– sudah tak nampak lagi di koridor bandara yang sangat luas itu.

Aku berjalan mengikuti arus orang-orang. Begitu ketemu bagian informasi, aku tanya di mana pintu terminal pesawat menuju Krabi. Berdasarkan petunjuk petugas itu, aku menemukan ruang tunggu terminal masih sepi. Rombongan yang kucari tak ada di sana!

Padahal, di negeri asing yang baru pertama kalinya kuinjak itu, sama sekali tak ada kenalan. HP juga tak bisa digunakan karena pakai kartu dari Indonesia, yang sengaja tak kuapdet karena bisa terkena roaming. Singkatnya, aku tak bisa mengontak satu pun dari anggota rombongan itu! Mau pulang, di sana tak ada bus Damri menuju Kalibata.

Tapi tenang, tiket ke Krabi sudah di tangan. Karena paniknya, aku tak sempat mengecek jam keberangkatan pesawat. Ternyata, jam keberangkatan pesawat masih beberapa puluh menit ke depan. Berarti, mereka ada di satu tempat, menunggu saat boarding ke pesawat.

Tapi di sana tak seorang petugas pun yang bisa kutanya. Aku masih belum yakin kalau pesawat Airbus A300-600 Thai Airways itu pesawat yang akan kunaiki. Kebetulan ada seseorang berwajah Thai dan berpakaian pilot sedang duduk di ruang tunggu penumpang sambil baca koran.

Dijawabnya, benar itu pesawat yang akan membawaku, sembari memintaku menunggu. Setelah mendapat kepastian, apalagi dari pilot pesawat yang akan kutumpangi, barulah aku tenang. Beberapa puluh menit kemudian, satu per satu anggota rombonganku bermunculan. Ternyata, mereka baru saja makan siang di McDonald’s.

Begitu akses ke belalai menuju pesawat dibuka, kami pun menaiki pesawat berbadan lebar (dengan kursi ekonomi 2 – 4 – 2, dan bisnis 1 – 2 – 1) yang kursi penumpangnya berwarna-warni itu. Begitu khas Thailand.

Kalau di Garuda, Airbus biasanya digunakan untuk penerbangan jarak jauh. Di Thai, Airbus malah digunakan untuk penerbangan domestik yang waktu tempuhnya hanya 1,5 jam. Garuda yang membawaku dari Jakarta (penerbangan luar negeri), malah pesawat Boeing 737-800 yang konfigurasi kursinya 3 – 3 (ekonomi) dan 1 – 1 (bisnis).