Nyaris saja jadi korban penipuan. Ceritanya begini. Seseorang, suara laki-laki, menelepon ke HP-ku.

[Ketika aku mengucapkan salam (sebagaimana biasanya kalau menerima telepon), dia tidak menjawabnya, melainkan “selamat sore.” >> keanehan #1 (temanku B suka menjawab salam)]

Dia tak mau menyebutkan nama, melainkan menyuruh aku menebak-nebak siapa dia.

Mendengar logatnya, aku menebak teman dari kantorku yang lama (sambil menyebutkan nama kantornya). Dia bilang, “ya!” Terus aku nebak lagi, namanya B –inisial teman lama yang beberapa jam lalu meneleponku. Dia jawab, “ya.”

Tapi kok logatnya bukan logat Si B, yang baru beberapa jam lalu meneleponku? >> keanehan #2

Dia cuma ngomong sebentar, dia bilang mau ngasih tau, nomor lama ganti aja. Ini nomornya yang baru.

Kenapa mengganti nomor, kan barusan nelepon, dan baru saja di-save ke phone book-ku? >> keanehan #3

* * *

Selang 10 menit kemudian, saat adzan maghrib selesai berkumandang, dia menelepon lagi. Nama dia sudah ku-save dengan nama B (teman lamaku), tanpa menghapus nomor sebelumnya.

Seperti waktu menelepon pertama, dia tak menjawab salamku. Tiba-tiba dia menyatakan maksudnya meminjam uang Rp 3 juta.

Aku tanya, buat apa, dia jawab, istrinya sakit. Aku menjawab apa adanya, aku nggak punya uang uang bebas, apalagi sebanyak itu. Dia turunkan permintaannya, “satu juta saja, ditransfer. Nanti saya bayar.”

Aku tetap menolaknya dengan halus; tidak punya uang lebih sama sekali. Dia mendadak memutuskan sambungan telepon.

Temanku, Si B kok tumben-tumbennya minjem uang? Padahal dia sudah main ke rumahku di Sasakpanjang >> keanehan #4

Seiring dengan ditutupnya hubungan telepon tanpa permisi, aku langsung tersadar, bahwa ini tukang tipu. Semua keanehan yang aku sebutkan di atas, langsung bermunculan di kepalaku.

Ini mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran buat kita semua.

1. Nomor HP hanya untuk yang berkepentingan. Tapi kalau terlanjur tersebar di mana-mana (seperti nomorku), tetaplah berhati-hati saat merespon “permintaan tak masuk akal” seperti pada cerita di atas.
2. Hati-hatilah dengan penelepon tak dikenal dengan nada sok akrab. Apalagi nyuruh menebak-nebak siapa dia, hanya berdasarkan suara saja (Emangnya kita paranormal?).
3. Penipu itu sudah profesional, pandai memanfaatkan suasana psikologis lawannya. Karena pada dasarnya, pada siapa pun yang mengaku teman, aku ramah dan terbuka. Termasuk pada si TukangTipu itu (demikian aku namakan dia di phone book HP-ku). Jadi, intinya, tetaplah waspada.

Semoga Allah SWT selalu membimbing kita.