Sumber: jejaring sosial

Seorang perempuan tua memiliki dua tempayan yang digunakan untuk mengambil air dari tempat jauh, dengan cara dipikul menggunakan sebatang bambu.

Salah satu tempayan itu retak, yang selalu menyisakan air hingga setengahnya setibanya di rumah. Sedangkan tempayan yang lainnya mulus tanpa cela, dan selalu memuat air secara penuh.

Selama dua tahun, perempuan tua itu mengambil air dengan tempayan utuh dan tempayan retak. Tentu saja si tempayan utuh sangat bangga dengan pencapaiannya. Sebaliknya, si tempayan retak merasa malu dan sedih akan kekurangannya, sebab hanya bisa memenuhi separuh dari kewajibannya.

Setelah dua tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan, akhirnya si tempayan retak berbicara kepada perempuan tua itu.

“Aku malu, sebab selalu bocor melalui bagian tubuhku yang retak, di sepanjang jalan menuju rumahmu.”

Perempuan tua itu tersenyum bijak, seraya menjawab: “Tidaklah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya?

Aku sudah tahu kekuranganmu, sehingga aku menebar benih bunga di jalurmu. Dan setiap hari dalam perjalanan, kau menyirami benih-benih itu dengan air yang bocor dari tubuhmu.

Selama dua tahun, aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja di rumah. Kalau kau tidak seperti itu, maka rumahku tidak seindah sekarang, sebab tidak ada bunga.”

Kita semua mempunyai kekurangan masing-masing. Namun keretakan dan kekurangan itulah yang menjadikan hidup kita berwarna dan menyenangkan.

Kita harus menerima setiap orang apa adanya, serta mencari dan mengembangkan yang terbaik dari diri mereka.