Kemarin sore (2/6), di belokan dekan kantor Desa, tak jauh dari rumah, kami melewati toko mebel. Di sana terpajang lemari baju dari plastik (semacam kontainer setinggi 1,8 meteran). Kebetulan, kami memang sedang mencari lemari yang anti-rayap (maklum, rayapnya ganas di sini). Apalagi ada gambar kartun lucu, cocok buat Fay.

Di luar toko mebel itu ada tiga orang; dua duduk-duduk di atas motor. Seorang lagi berdiri. Ketika kami datang dan langsung menanyakan harga lemari itu, dia mejawab sambil lalu, “600 ribu.”

Aku heran juga mendengar harganya. Lemari dari bahan plastik –yang sangat mungkin hasil daur ulang seperti ember– kok harganya bisa semahal itu? Aku kira, 300 ribuan. Tapi kami terus masuk ke toko itu, melihat-lihat model lainnya.

Tapi harapan kami mendapatkan pelayanan yang wajar tak kesampaian. Orang yang berpakaian seperti pegawai toko itu, malah berdiri di luar, tak memedulikan kami. Sampai lebih dari 10 menit. Aneh juga, ada calon pembeli kok tidak disambut, atau diikuti, barangkali perlu penjelasan soal harga.

Aku pun tidak tahan. “Mana yang punya toko?” seruku dengan keras. Si pegawai itu malah clingak-clinguk nggak jelas. Muncullah seorang perempuan –yang nampaknya pemilik toko. Tapi…. dia malah terima telepon, dan asik bertelepon tanpa memandang sedikit pun pada kami.

Karena dia lama bertelepon, istriku sudah tidak sabar lagi. “Ayo, kita pulang aja,” ajaknya.

Kami pun menuju motor, menaikinya dan siap berangkat.

Perempuan itu selesai bertelepon. Ternyata dia cuek. Bertanya pun tidak. Misalnya, “mau nyari apa?” Dia cuek seperti orang jualan yang tak butuh pembeli. Rezeki buat dia sore itu, hilang deh.

Soal lemari, kami dengan gampang bisa nyari penjual lainnya. Toh banyak ini.

*Penjual itu seharusnya mengamalkan 3 S: senyum, salam, dan sapa.