Sohibku, anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, selalu “teriak-teriak” di status FB-nya, menyoal tayangan televisi.

Misalnya dia menulis: “seperti diduga, televisi melumat habis para korban sukhoi sampai ke tulang-tulangnya. mengutip foto-foto dari sumber tidak resmi tanpa verifikasi pun berani dilakukan. etika tak ada nilainya lagi. ini namanya, bencana jurnalisme. bukan jurnalisme bencana.”

Itu tentang publikasi foto-foto jenazah korban (yang diakukan sebagai korban Sukhoi SJ 100 di Gunung Salak, padahal bukan), yang kemudian diikuti publikasi dari jejaring sosial, semisal FB, lalu di forward, dan diforward lagi (mudah-mudahan anda tidak termasuk di antaranya).

Sebenarnya, ada lagi materi tayangan televisi yang membuatku risau dan galau, yakni tayangan hiburan musik live/langsung.

Saya ambil contoh, penampilan presenter “Dahsyat” di RCTI dan “Inbox” di SCTV. Di kedua tayangan yang presenternya selalu ingin melucu itu, sering sekali terlontar banyolan yang mengarah pada candaan secara fisik.

Misalnya, membandingkan si ganteng dan si jelek (wajah), si jangkung dan si pendek/kontet (postur tubuh), si putih dan si hitam (warna kulit), atau memlesetkan atau mengejek nama seseorang, dan tindakan pembodohan dan pengajaran sesat lainnya kepada para pemirsanya.

Menurutku, meski hinaan itu ditujukan untuk dirinya sendiri (biasa dilakukan Narji Cagur), tetapi tetaplah itu tidak memberikan pendidikan yang baik, karena memancing orang lain, termasuk penonton, untuk melakukan hinaan serupa terhadap orang lain.

Ayolah para presenter sekalian –yang aku yakin dibayar sangat mahal– lebih kreatif lagi kalian! Kalau ingin bercanda, lakukan dengan cara yang tidak menyakiti pihak lain. Banyak teori humor yang bisa kalian terapkan, seperti pemutarbalikkan logika (dilakukan Bagito dan Warkop dulu), permainan kata-kata/plesetan (dilakukan Butet Kertaradjasa dan Kelik Pelipur Lara), role playing (dalang dan pengumpan –dilakukan De Kabayans: Aom Kusman dan Kang Ibing), dan banyak lagi.

Juga buat para produser acara hiburan/musik di televisi, kalian sebenarnya bisa membuat sebuah acara itu tetap segar dan cerita secara sehat, yang terbebas dari ekspoitasi fisik (dalam bentuk ejekan dan celaan).

Sebab bagaimana pun bentuk fisik seseorang, semua itu adalah ciptaan Allah SWT yang harus kita syukuri.