Kemarin, ayahku menelepon dari Bandung, menanyakan posisiku di mana. Lho, tumben? Ternyata, ayahku mengkhawatirkanku karena dikiranya aku ikut dalam penerbangan demo Sukhoi Superjet 100 (SSJ 100)–pesawat buatan Rusia yang hancur berkeping-keping menabrak dinding tebing di lereng Gunung Salak. Hingga kini, belum diketahui nasib seluruh penumpang beserta krunya. Alhamdulillah, saya baik-baik saja, ada di rumah nungguin Fay selama ibunya pergi berniaga.

Bicara soal penumpang SSJ 100 yang sedang ditunjukkan kemampuan manuvernya kepada publik itu, menurut berita, daftar nama penumpang pesawat SSJ 100 berdasarkan manifest penumpang di Halim Perdanakusuma Jakarta, ternyata hanya tercatat 41 nama. Disebutkan, ada empat nama yang dicoret tanpa alasan yang jelas. Padahal, berdasarkan catatan, ada 46 orang Indonesia yang ikut dalam penerbangan kedua itu.

Perbedaan antara nama di manifest dengan faktanya (orang yang benar-benar berada di pesawat), bukan kali ini terjadi. Setidaknya menurut pengalamanku. Pada 1997, aku pernah menumpang pesawat angkut personil CN-235 milik TNI AU, tanpa terdaftar di manifest. Aku menggunakan nama orang lain (wartawan lain), yang diundang untuk terbang tapi orangnya tidak hadir.

Saat itu, aku datang hanya untuk meliput pelepasan peserta Rally Udara dari Jakarta ke Lombok PP. Aku hanya membawa pakaian yang melekat di badan, kamera SLR (bukan DSLR), dan buku catatan/notes.

“Lo punya ATM kan?” tanya Heddy, wartawan harian yang menjadi koordinator peliput di TNI AU. “Ada,” jawabku, yang saat itu masih bujangan. “Ayo naik sini!” ajaknya.
(ATM di sini maksud si Heddy, dana untuk membeli perlengkapan baju ganti selama di perjalanan).

Aku yang sama sekali tidak siap untuk bepergian tertegun sejenak, tapi keraguanku langsung ditepis oleh Heddy, dengan mengatakan, “Gampang, kamu bisa menggantikan wartawan yang tidak datang. Tapi kamu pake nama dia ya?”

Aku pun menaiki pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia (dulu bernama IPTN) itu, dengan rute penerbangan Jakarta (Halim PK), Yogyakarta (Adisucipto), Surabaya (Juanda), Denpasar (Ngurah Rai), dan Lombok (Selaparang).

(Aku baru laporan kepada bos di kantor, dan juga keluarga di Bandung, bahwa aku mendadak ke luar kota, baru dilakukan waktu transit di Yogyakarta).

Waktu itu sempat terlintas, seandainya pesawat itu jatuh (kemungkinan itu selalu ada dan selalu terpikir setiap aku menumpang pesawat), TNI AU tentu tidak mengetahui adanya penumpang gelap ini, melainkan nama yang tertera di manifest.

* * *

Nah, masih berkaitan dengan manifest, beberapa belas tahun kemudian, aku diundang sebuah event organizer untuk mengikuti acara yang mungkin menjadi impian para petualang bahari pada umumnya: mengikuti pelayaran dengan kapal pesiar dan menyelam di Raja Ampat, Papua.

Tapi undangan mendadak, karena begitu dekat dengan acara pelaksanaannya itu –dengan berat hati– aku tolak, karena persoalan manifest pesawat Merpati yang akan membawaku ke Papua. Menurut pihak pengundang, karena aku menggantikan wartawan yang diundang, namaku akan didaftarkan atas nama wartawan yang tidak hadir itu.

Kali ini aku tak mau mengulang untuk kedua kalinya, datang sebagai “penumpang gelap”, meski diundang oleh panitia penyelenggara, dengan pertimbangan, “kalau terjadi apa-apa, aku tak akan dicari.”

Ya sudah. Dia menjanjikan, tahun depan kalau ada acara serupa, aku akan diundang secara resmi. Tapi kesempatan tidak datang dua kali, undangan itu sampai sekarang tak pernah ada.

*Teriring duka yang mendalam bagi para penumpang SSJ 100 yang jatuh di Gunung Salak, termasuk empat jurnalis (dua dari majalah Angkasa dan dua dari TransTV). Do’a yang terbaik untuk mereka.

Foto: CN-235 TNI AU [nkri.blogspot.com]