Mendengar kata “GOR Saparua di tayangan televisi, ingatanku melayang ke tiga dekade lalu, waktu aku mengikuti OPSPEK alias Orientasi Program Studi dan Pengenalan Kampus di SMAN 11 Bandung.

GOR (Gelanggang Olah Raga) Saparua adalah salah satu tempat kegiatan remaja (antara lain, olah raga dan pertunjukan musik) di Kota Bandung, yang berlokasi di Jalan Ambon, tak jauh dari Stadion Siliwangi.

Nah, saat itu senior mengumumkan bahwa hari Minggu, para peserta OPSPEK diwajibkan berkumpul di GOR Saparua jam 6 pagi, untuk mengikuti kegiatan OPSPEK gabungan dengan semua SMA di Kota Bandung.

“Wah gawat,” pikirku. Bukan kumpul di pagi harinya yang jadi pikiranku, melainkan lokasi GOR Saparuanya yang aku nggak tau.

Seperti sudah membaca pikiranku, seorang senior bertanya kepada anak-anak: “Siapa yang tidak tau GOR Saparua?” seraya menyuruhnya berdiri. Aku sendiri tak ikut berdiri, karena meski tidak tahu lokasinya, kan ada sepupuku, orang Bandung asli yang kebetulan sama-sama mengikuti OPSPEK.

Hampir separuh dari peserta OPSPEK berdiri, karena memang tidak tahu di mana GOR Saparua berada.

[Maklum saja, lokasi SMA-ku itu ada di pinggiran kota di Bandung Selatan, yang berjarak sekitar 5 km dari GOR Saparua. Sedangkan banyak dari siswa baru itu yang berasal dari luar Bandung, seperti Banjaran, Ciwidey, Ciparay, dan Majalaya. Aku sendiri dari Majalaya]

“Kalian ke depan!” perintah senior pada siswa baru yang mengaku tak tahu di mana GOR SAPARUA.

“Inilah contoh orang-orang KAMPUNGAN!” seru senior itu, mempermalukan anak-anak yang memang baru mengenal Kota Bandung. Tawa pun meledak, dan yang menjadi sasaran ledekan, cuma cengengesan.

“Selamat, selamat,” pikirku, karena lolos dari cap “kampungan”, meski kenyataannya iya.

Besok paginya, bersama sepupuku yang orang Bandung itu, kami pun selamat tiba di GOR Saparua dengan menumpang angkot Kebon Kalapa-Dago.

Foto: kapanlagi.com