Saat kita membayar di kasir minimarket AM, IM, juga K, alih-alih melayani terlebih dulu, sang kasir suka membombardir kita dengan pertanyaan: “Beli Ini aja?”, “Nggak sekalian isi pulsanya?”, “makanan atau minumannya sekalian?”, “rokoknya?”

Ini mungkin salah satu strategi marketing minimarket –yang merupakan kepanjangan tangan dari pemodal kuat (kapitalis) — agar pembeli membeli lagi, dan membeli lagi barang-barang yang sebelumnya tak terpikirkan mereka.

Tapi dari sisi konsumen, terus terang, aku merasa terganggu. Apalagi saat membeli barang sedikit dengan jumlah nominal irit (ini toh minimarket, bukan supermarket, apalagi hypermarket), seolah kita nggak boleh memperketat budget untuk belanja/sekadar jajan.

Sebenarnya sih gampang, tinggal kita bilang tidak (dengan senyuman dipaksakan), si kasir juga tidak memaksa. Tapi tetap saja merasa terganggu.

Berbeda dengan minimarket non jaringan di dekat sekolah anakku –aku sengaja sebut nama lengkapnya– Aries Mart, yang saat membeli satu teh kotak seharga Rp 2.500 saja, kasirnya tak pernah rewel.

Tapi kalau tidak menemukan minimarket semacam itu, aku cenderung memilih warung atau toko kelontong biasa, karena toh perbedaan harga yang sedikit lebih mahal, tidak signifikan.

Tapi jangan salah loh. Untuk beberapa barang kecil, semisal biskuit anak-anak, harga di warung/toko malah lebih murah ketimbang harga di minimarket (apalagi kalau ditambah ongkos parkir).

Foto ilustrasi: accenteservices.de