Asep, 47 tahun, mengalami pengalaman mengerikan dalam hidupnya. Betapa tidak, bus Karunia Bakti yang ditumpanginya, saat melewati turunan di Cisarua, melaju tidak terkendali, menabrak sejumlah kendaraan, lalu nyungsep di sebuah halaman villa yang berada sekitar 10 meter di bawah badan jalan.

Posisi bus nungging, hampir vertikal. Asep, yang duduk di bangku baris ke-7 sebelah kanan, mengalami luka ringan. Pelipis kanannya mendapat empat jahitan, dan lengan kanannya bengkak.

Begitu bus terhenti, dengan bagian depan terperosok di sebuah empang, Asep berusaha mencari jalan keluar. Ia berhasil keluar melewati jendela yang kacanya sudah pecah, merayap ke atas, dan mendapat pertolongan.

“Pandangan mata saya sampai gelap, karena darah memenuhi muka saya,” ujar Asep, kepada reporter SCTV. Yang dipikirkannya adalah menyelamatkan diri secepat-cepatnya, karena ia takut bus –yang dalam posisi nungging vertikal– kembali terguling.

Setelah mencuci darahnya di sebuah rumah makan, Asep pun dibawa ke RS Paru Cisarua untuk mendapat pertolongan.

Asep mengisahkan, bus itu tidak secara tiba-tiba rusak, lalu kehilangan kendali, karena beberapa kilometer dari tempat kejadian, bus diketahui mengeluarkan asap di bagian belakangnya.

“Sebetulnya bus itu sejak dari Puncak sudah mengeluarkan asap. Kemudian di tempat kontrol (pos perwakilan PO Karunia Bakti, Red.) diperiksa selama 15 menit, tetapi pas jalan lagi malah blong rem-nya,” kata Asep kepada Detikcom.

Asep bersyukur dia dan teman-temannya lolos dari maut. Dia berharap segera bisa keluar dari rumah sakit dan melanjutkan perjalanan.

Kembali dunia transportasi darat kita berduka. Setelah serentetan kejadian, antara lain “Xenia maut” di Jakarta yang menewaskan sembilan pejalan kaki, dan bus Maju Jaya yang masuk jurang 20 meter di Wado Sumedang yang menewaskan 13 penumpangnya– kini Bus Karunia Bakti, yang diduga mengalami rem blong, kemudian lepas kendali, menabrak sejumlah kendaraan, lalu nyungsep di jurang yang dangkal –menewaskan 14 orang, termasuk penjaga warung bakso dan pengendara motor.

Nasib orang kita tidak tahu, demikian pula ajal. Kita hanya bisa berdo’a memohon keselamatan di perjalanan, karena tak seorang pun menjamin keamanan perjalanan, kecuali Allah Sang Maha Pengatur.

Foto: detik.com, duniabaca.com