Hujan tadi sore benar-benar lebat, ibarat dicurahkan dari langit. Saking derasnya, jas hujan yang kupakai tak mampu mencegah jaket, baju dan pakaian dalam dari kebasahan. Demikian pula isi tas.

Sejak dari sekolah Fay di Simpangan Depok, tampak langit menghitam. Tornie, motor yang kami naiki, masih di Jalan Raya Bogor, menjelang simpangan Kostrad.

Tiba-tiba saja, titik-titik air berjatuhan. Dalam waktu singkat, berubah menjadi deras. Aku pun menepikan si Tornie, dan berteduh sambil masing-masing mengenakan jas hujan. Fay memakai jas baju dan celana, aku mengenakan ponco tentara, yang bisa sekalian menutupi tas-tas yang kami bawa.

Tornie pun kujalankan pelan-pelan di tengah hujan lebat yang berkabut. Fay tenang saja di boncengan, berbeda dengan biasanya (tak mau diam). Mungkin dia kedinginan.

Selepas jalan Kostrad, memasuki perumahan Grand Depok City (GDC), hujan tampak makin deras saja. Sampai jalanan berubah seperti sungai berair deras. Banjir.

Menjelang jembatan Ciliwung, si Tornie terbatuk-batuk, lalu mesinnya mati. Mogok. Aku gunakan jurus yang biasa; mengeluarkan sebagian bensin di mangkuk karburator yang tercampur air. Manjur. Si Tornie kembali melaju.

Begitu melewati jembatan Ciliwung, pas sebelum tanjakan menuju pertigaan Jalan Raya Citayam, si Tornie kembali ngadat. Kali ini nggak mau hidup lagi meski bensin di mangkuk karburator sudah dikeluarkan. Tetap saja ogah distarter.

Akhirnya aku menyadari, “setangguh tangguhnya si Tornie, akhirnya mogok juga.” Maklum, usianya sudah remaja, menjelang sweet seventeen (untuk kendaraan, usia remaja itu sama dengan usia senja untuk manusia). Sedangkan motor-motor lainnya yang bersliweran, usianya masih balita, bahkan batita.

Aku menduga, businya musti dikeringkan, karena kemasukan air. Maklum saja, jalanan dipenuhi air. Motor seperti habis terjun ke sungai ketimbang berjalan di jalan aspal. Tapi gimana bisa buka busi, kalau hujan masih deras?

Apa boleh buat. Si Tornie pun aku dorong mendaki tanjakan yang lumayan terjal, di tengah hujan yang masih deras. Fay berjalan di samping. Tangan kanannya aku pegang sembali memegang setang (susah, menyuruh dia untuk membantu mendorong motor. Dia malah cuwek aja).

Ngos-ngosan juga mendorong motor mendaki sejauh lebih dari 200 meter. Begitu tiba di Jalan Raya Citayam, belok dikit, langsung ketemu bengkel motor. Dibuka busi, disemprot pake angin kompresor, motor pun bisa kembali distarter.

Setelah menurunkan Fay di rumah, aku datangi bengkel langganan. Ternyata, karet tutup busi yang sudah retak-retak yang jadi penyebab mogoknya si Tornie. Pantas saja air dari cipratan hujan deras itu bisa masuk ke busi dan mengganggu pengapiannya.

Setelah kepala/tutup busi diganti dengan yang baru, si Tornie pun kembali normal, dan siap menempuh hujan deras maupun banjir.

Foto-foto: atas: si Tornie [tianarief], bawah: tutup busi [motorplus]