Minggu lalu, aku bertemu Pak Bedjo, tetanggaku, warga senior yang membuka warung di blok depan. Saat itu, aku sedang mencuci motor di tempatnya Iwan. (Iwan, sebelum membuka usaha steam motor, bekerja sebagai tukang bangunan).

Datanglah Pak Bedjo, meminta tolong pada Iwan untuk memperbaiki atapnya yang bocor. Yang saya heran sekaligus kagum, sebagai orang tua Pak Bedjo menggunakan bahasa Jawa halus (kromo inggil) kepada Iwan. Beberapa kali terdengar “njih, njih” (iya, iya) dari mulut Pak Bedjo, ketika mendengar kesanggupan dari Iwan.

“Pak Bedjo musti orang yang sangat santun,” pikirku.

Pak Bedjo sempat mengangguk ke arahku, sambil melambaikan tangan, sebelum berlalu.

* * *

Dinihari tadi, ketika aku baru tiba dari kantor sekitar pukul 00.30 wib, aku melewati rumahnya. Di jalan ke arah rumah Pak Bedjo ada bendera kuning. Aku bertanya dalam hati, “siapakah yang meninggal?”

Dari pengumuman di masjid siang tadi, jelas sudah, Pak Bedjo sudah berpulang semalam, di usia 71 tahun. Menurut seorang tetangga, beliau sudah lama mengidap penyakit jantung.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Allahummaghfirlahu, warhamhu , wa’afihi wa’fuanhu (“Ya Allah, ampunilah dia, dan kasihanilah dia, sejahterakan ia dan ampunilah dosa dan kesalahannya).

Aku dan para tetangga siang tadi mengantarkan jenazah Pak Bedjo ke peristirahatannya yang terakhir, di atas sebuah lahan di tengah kebun yang menjadi permakaman milik warga perumahan, tak jauh dari rumahku.