Mabal biasanya dilakukan anak sekolah yang bandel, karena tak mau mengikuti pelajaran. Tapi aku melakukannya saat melakukan ronda/siskamling, Sabtu malam, akhir pekan lalu.

Pekan lalu adalah hari-hari yang sangat sibuk. Senin nginep di kantor, Selasa dinihari berangkat ke Sumbar hingga Kamis malam. Jumat pagi langsung bertolak ke Cirebon hingga Sabtu malam.

Dan Sabtu malam itu juga, Pak N –ketua keamanan di RT lingkunganku– menyodorkan daftar ronda yang tercantum namaku di hari pertama ronda yang dilakukan sebulan sekali itu.

Awalnya aku sepakat dengan istriku untuk mengganti ketidakhadiranku di ronda, dengan uang Rp 10.000. Maklum saja, tubuh ini sudah kecapean sehabis melakukan perjalanan ke luar kota.

Tapi di malam pelaksanaan ronda itu, aku sempat tertidur pulas hingga jam 23.30. Setelah itu, Fay malah tak bisa tidur di kamarnya –yang berarti membawa-bawa kedua ortunya, untuk tidak tidur juga.

Tanggung begadang, aku pun keluar dan berkumpul di pos kamling bersama mereka yang kegiliran ronda malam itu.

Puas ngobrol dalam keadaan mengantuk dan jam menunjukkan pukul 01.00, Pak H, sekretaris RT-ku, mengajakku “berkeliling”, seraya membisikkan: “Pak, kita pura-pura berkeliling, lalu masuk rumah. Aku pun setuju.”

Mabal ronda pun berlangsung sukses, dan sampai sekarang aku belum bertemu lagi Pak N. Meski rondanya tak penuh semalaman, yang penting sudah setor muka toh?