Siang ini ayahku meneleponku dengan nada panik. Katanya, Aa (abang tertuaku) kecelakaan parah, sekarang sedang di rumah sakit. Deg!

“Terus si penelepon yang mengaku dokter ini bilang, katanya harus transfer uang untuk biaya operasi. Karena ini rumah sakit swasta, peralatan harus beli sendiri…”

Aku langsung memotong: “Jangan ditransfer, penipuan!”

Seterusnya aku minta ayahku untuk menenangkan diri, sambil menjanjikan akan mengabarkan beliau kembali, setelah aku mencari tau tentang kebenaran informasi ini.

Kenapa aku lebih yakin kalau ini penipuan ketimbang memercayai informasi –yang bisa jadi benar ini?

Karena belum-belum sudah transfer uang. Mana ada dokter, yang menangai pasien, apalagi dokter bedah, sambil ngurusin administrasi. Apalagi sampai menelepon-nelepon keluarga pasien segala. Selain itu, kejadian serupa ini bukan satu kali dua kali terjadi.

* * *
Aku pun menghubungi abangku, yang ternyata baik-baik saja. Ia dan keluarganya sedang berada di rumahnya.

Katanya, telepon rumahnya beberapa kali dimainin orang. Beberapa kali berdering, setelah diangkat, si penelepon langsung menutupnya. Rupanya, ini akal-akalan si penipu, agar telepon rumahnya susah dihubungi –untuk mengonfirmasi kebenaran berita kecelakaan tsb.

* * *
Aku langsung mengabari ayahku, lewat HP-nya, yang ternyata diangkat ibuku. Ibuku, yang lebih tenang, ternyata sudah menyadari kalau itu penipuan.

Menurut beliau, si penelepon –seorang lelaki– dengan panik mengabarkan, kalau anaknya (abangku) mengalami kecelakaan yang harus segera mendapatkan penanganan.

“Memang penanganan harus segera. Lalu, maunya apa?” tanya ibuku pada si penelepon.
Setelah si penelepon menyampaikan, kalau perlu biaya administrasi yang besar, dan segera harus ditransfer, barulah ibuku mengeluarkan “kartu trufnya.”

“Saya juga orang rumah sakit,” tegas ibuku, yang pernah menjadi asisten operasi di RSHS Bandung, beberapa puluh tahun lalu, seraya menanyakan, rumah sakit apa yang dimaksud.

“Kalau rumah sakit memang tugasnya harus segera menangani pasien. Urusan administrasi belakangan,” sambungnya.

“Terus, kalau ada emergensi begini, kenapa tidak menghubungi istrinya?” tanya ibuku pada si penelepon.

“Istrinya juga kecelakaan. Kepalanya malah pecah. Anaknya juga sudah ‘lewat’,” jawab si penelepon, teu euleum-euleum (nggak tanggung-tanggung bohongnya). Ya Allah, teganya si penipu.

* * *
Mertuaku, beberapa tahun lalu, pernah mendapat telepon dari penipu dengan modus serupa. Begitu mendengar kabar bahwa anakknya kecelakaan, dengan kalem ayah mertuaku bertanya balik pada si penelepon.

“Anak saya yang mana? Yang umur berapa?”

“Anak bapak umur berapa saja?” si penelepon bertanya balik. *mulai tidak meyakinkan*

“Anak saya umurnya 6 tahun,” ujar mertuaku, menjawab asal-asalan (padahal ketiga anaknya sudah dewasa semua).

“Ya, yang umur 6 tahun,” jawab si penipu. Euleuh-euleuh!