Sejak 2008, bahkan jauh sebelumnya, sewaktu punya motor pada 1997 dulu, aku selalu diliputi keraguan saat melatih istriku belajar mengendarai sepeda motor.

Tadinya kupikir, istriku harus mahir dulu mengendarai motor di tempat sepi, lalu bikin SIM, barulah “turun” ke jalan raya.

Ternyata, akibat “dipaksa keadaan” (kebutuhan mendesak untuk mengantar-jemput Fay ke sekolah), istriku menyatakan kesanggupannya (bahkan bertekad) untuk terjun langsung ke jalan raya, meski belum punya SIM dan beresiko ketemu polisi.

Ya, jadilah aku membawa istriku “berkonvoi” dengan dua sepeda motor (aku dan Fay menunggang Tornie, istriku membawa BeAT –nanti bisa gantian membawa penumpang) ke jalan raya.

Sudah dua rute yang kami lalui secara berkonvoi. Pertama, ke sekolahnya Fay. Bahkan ke sekolah Fay, istriku sudah berani sendiri tanpa dibarengi. Hanya saja, untuk membonceng Fay, belum sanggup, karena anak itu tak mau diam di boncengan; bahkan membuat motor menjadi tidak seimbang jalannya.

Kedua, ke rumah abangku, yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Bahkan, melintasi provinsi lain (dari Jawa Barat ke Banten. Bantennya sih, maksudnya Tangerang Selatan).

Hanya saja, kecepatannya masih pelan-pelan (di bawah 40 km/jam), dan berjalan di sisi kiri sekali dari jalan, kecuali kalau ada angkot berhenti, baru disalip.

Selama perjalanan, mungkin istriku tidak menyadari, kalau aku selain mengawasinya dari balik kaca spion, juga melihat jauuuuh ke depan, kalau-kalau ada razia polisi. Maklum lah, rute Cinangka-Parung, suka ada razia dadakan dari polisi setempat.

Tapi kalau sekadar polisi yang berjaga-jaga di perempatan, kami tenang saja. Maksudku, istriku aku pesankan supaya berlaku tenang, karena belum memiliki SIM. Toh, polisi nggak bakal tahu dan tertarik untuk menyetop, kalau tidak melanggar. Lagi pula, lampu utama motornya dinyalakan, sesuai UU Lalu Lintas, dan mengenakan perlengkapan standar –seperti helm dan jaket.

Alhamdulillah, pagi tadi istriku “lulus” berlatih di jalan raya rute Sasakpanjang-Rempoa. Pelajaran berikutnya, mungkin akan dicoba ke rute lebih jauh dan lebih menantang: Sasakpanjang-Penggilingan (Jakarta Timur).

Di rute itu akan ditemui, lalu lintas ramai, macet, putaran jalan, perlintasan rel KA, jembatan layang, dan juga para polantas. Hehehe.