Hari Sabtu dan Minggu (1 dan 2/10) kemarin, istriku baru saja latihan mengendarai motor secara intensif. Maksudnya bermotor dalam jarak cukup jauh, mengikutiku, yang juga mengendarai motor, berboncengan dengan Fay.

Nah, hari ini ia kembali berlatih motor dengan jarak lebih jauh lagi; dari rumah ke sekolah Fay (karena memang itu target kami, biar bisa antar jemput Fay –yang selama ini aku lakukan sendiri).

Biasanya, aku berangkat dari rumah pukul 07.00, karena Fay masuk pukul 08.00 (perjalanan kurang lebih satu jam). Tapi berhubung istriku mau ikut berkonvoi di belakangku, jam keberangkatan dimajukan menjadi pukul 06.00. Maklum saja, jalannya motor pelan-pelan saja; tak lebih dari 40 km/jam. Ternyata, waktu tempuhnya hanya 1,5 jam, bukan 2 jam, seperti estimasi sebelumnya.

Setelah menjalani, segala anggapan, atau lebih tepatnya, kekhawatiranku selama ini, sirna sudah. Istriku ternyata dengan baik bisa menempuh jarak sekitar 21 km, dengan kondisi lalu lintas di hari kerja ini ramai hingga macet.

Kenapa aku khawatir (istriku bakal lama menyesuaikan diri dengan kondisi lalu lintas dari rumah-sekolah)? Itu karena, perjalanan ke sekolah harus melewati tanjakan dan turunan curam, antrian kendaraan (di Jalan Raya Citayam), dan ramainya truk dan bus gede, di Jalan Raya Bogor, juga satu kali melewati perlintasan rel KA tidak resmi. Sisanya, jalan kampung atau gang yang rusak jalannya.

Aku sengaja tidak “macam-macam”. Maksudnya, menjalankan motor dengan mencari celah-celah di kanan dan kiri kendaraan roda empat, melainkan mengikuti dari belakangnya dengan tertib. Kalau jelas-jelas ada angkot yang berhenti atau hendak ngetem, baru kami salip.

Setelah mengantar Fay, aku kembali mengawal istriku hingga Hek (sekitar 7 km menjelang rumah). “Dari sana, saya hapal jalan dan merasa pede,” kata istriku. Ya sudah, dari Hek, aku balik kanan menuju kantor.

Nanti siang (jam 2), istriku akan menjemput Fay sendirian naik motor dari rumah, dan aku hanya mengawal saja.

Besok dan lusa (Rabu dan Kamis), aku ditugaskan ke Bandung. Jadi istrikulah yang akan mengantar-jemput Fay pake Honda Beat, tanpa pengawalan lagi. Mudah-mudahan pelajaran kilat ini membawa berkah, dan aman selama di perjalanan. Amin.