Di sebuah halaman restoran di Cikini, seusai aku mengikuti acara konferensi pers yang dilanjutkan buka bersama, aku clingak-clinguk mencari Beaty, yang kuparkir di samping motor boks.

Seorang petugas security alias Satpam langsung tanggap, dengan menunjukkan Beaty-ku, yang ternyata sudah dipindahkan ke tempat lain.

“Mohon maaf Pak, tadi ada motor boks datang. Jadi motornya saya pindahkan,” kata satpam itu, meminta permakluman. Motor itu (sengaja) tidak dikunci setangnya, biar mudah dipindah-pindah.

Aku pun mengikuti satpam itu mencari motorku di deretan puluhan motor yang terparkir rapi.

“Beat yang huruf akhirnya TTM,” ujarku. Setelah motor yang dimaksud ketemu, satpam itu pun mengeluarkannya dari himpitan motor lainnya, lalu memindahkannya ke tempat yang lapang. Setelah itu dia mempersilakanku, dan pergi.

Tak ada indikasi dia minta tips atau uang parkir.

“Nah, ini baru satpam yang melakukan tugasnya,” pikirku, memuji.

Berbeda dengan pengalaman kemarin, sewaktu aku memarkir Tornie-ku di sebuah agen resmi telepon seluler.

Motor itu terparkir aman di halaman belakang. Satpam tak perlu cape-cape lagi memindah-mindahkannya.

Tapi faktanya, sewaktu aku bersiap-siap mengambil motorku, seorang satpam sudah menunggui di belakang motor.

Aku tau persis bahasa tubuh seorang tukang parkir (bisa tukang parkir betulan, preman, atau satpam) yang menunggu bayaran.

Begitu motor sudah distarter, aku pun memberi uang Rp 1000 (2 koin Rp 500-an) ke tangan satpam itu. Sambil menimang-nimang uang koin itu (mungkin takut kurang), satpam itu tak bicara sepatah katapun.

Tak terdengar ucapan terima kasih atau bahasa tubuh sebagai tanda dia melakukan tugasnya sebagai tukang parkir.

“Huh! Seharusnya satpam tipe seperti itu dimutasi aja jadi tukang parkir di pasar becek,” gerutuku dalam hati.

Astaghfirullah, kan lagi puasa.