HP-ku –HP buatan China yang Qwerty, doorprize dari kantorku– pecah layarnya. Itu karena keteledoranku memasukkannya ke dalam saku bersama-sama dengan uang recehan. Retakan yang makin membesar, membuatku mataku tak sanggup lagi melihat tulisan atau angka yang tertera di layar, karena terhalang retakan yang berwarna kehitaman itu.

Padahal, sebagai pekerja dotcom sekaligus pedagang asongan, HP-ku itu sering menerima permintaan membuat tulisan, mengedit, undangan peliputan, atau orderan bakso, abon, dll, untuk dikirim ke alamat tertentu.

Solusinya, ya membeli HP baru. Pilihanku jatuh pada “HP sejuta umat” yang banyak digunakan di negeri ini. Meski terbilang “tipe generik”, yang penting bisa menerima panggilan telepon dan SMS. Fungsi lainnya (seperti berinternet, atau kamera), aku tahan diri dulu. Sambil menunggu BlackBerry atau Android “jatuh dari langit”.

Kemarin, sebelum berangkat ke kantor, aku mampir di diler resmi HP sejuta umat itu di Jalan Buncit, Jaksel, mencari-cari kemungkinan ada HP paling murah (alhamdulillah, ada rezeki dari penjualan pulsa plus bonusnya).

Sebelum mendapat giliran dilayani, tampak ada sepasang suami istri berusia kira-kira setengah baya lebih (maksudnya di atas setengah abad), tengah membeli HP dengan merek serupa dengan HP yang bakal aku beli. Entah apa tipenya, aku nggak begitu hapal. Rupanya transaksi selesai, HP-nya tinggal dimasukkan ke tas kain.

Yang terdengar, hanya dialog ini:
Pembeli: “Tambah lagi dong tasnya, masa cuma satu? Lima dong!”
Penjual: “Wah pak, ini termasuk dalam stok yang diawasi. Saya nggak berani mengeluarkan lebih dari satu.”
Pembeli: “Gimana sih? Masa HP 9 juta cuma dikasih satu tas?”
Penjual: “Iya deh. Apa sih yang nggak buat Bapak.”
Sambil menyodorkan satu tas ekstra.

Selesai transaksi, si penjual berbalik ke arahku.
Penjual: “Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu?”
Aku: “E, nyari Nokia yang paling hemat.”
Penjual: “Oh yang tipe biasa?”
Sambil menyodorkan satu dummy HP plus daftar harga.
*Ternyata, HP-nya cuma wacana. HP murah cuma di price list doang. Barangnya kosong.*

Aku pun balik kanan, mencari toko yang satunya lagi, di sekitar Mampang. Akhirnya dapat tipe X1-01. Ternyata nggak generik-generik amat. HP ini lebih memanjakan telinga, karena dikhususkan untuk pencinta musik (Lihat reviewnya di Republika). Selain itu, dual sim card plus memori (SD card) 2 GB.