Sewaktu aku kecil dulu, ayahku, selain pernah bekerja di pemerintah, juga pernah berdagang, mulai dari juragan es mambo, beras, penggilingan padi, warung kelontong, hingga mengelola pabrik tekstil kecil milik keluarga besar. Lalu, semuanya bangkrut tak bersisa.

Sejak itu, ayahku sepertinya alergi terhadap segala sesuatu berbau wiraswasta. Bahkan, aku masih ingat, sewaktu ayahku berpesan kepadaku dan saudara-saudaraku agar berkarir apa saja setelah menamatkan sekolah, kecuali berdagang. Alasannya, kalau berdagang bisa bangkrut, lalu segalanya tak bersisa. Beda kalau jadi karyawan atau pegawai negeri sipil, yang tak mengenal kata bangkrut (kecuali dipecat karena melakukan kesalahan besar, tentunya).

Nah, waktu aku masih di SD, aku sempat ingin berdagang seperti teman karibku, yang memang terlahir dari keluarga pedagang. Temanku itu sering berkeliling menjajakan dagangan ibunya, mulai dari krupuk hingga es mambo. Dia tanpa risih berkeliling kampung sambil meneriakkan dagangannya. Mirip-mirip karakter Ma’il di serial kartun Ipin Upin.

Suatu hari, aku menyatakan keinginan untuk berjualan keliling. Lalu ibuku membuatkan wajit (wajik) satu nampan penuh. Setelah wajit disusun dalam nampan yang ditutupi plastik transparan, aku pun membawanya ke luar.

Tapi tiba-tiba aku disergap perasaan malu karena tidak terbiasa berdagang. Aku diam saja di halaman tetangga seberang rumah, tanpa sedikit pun menawarkan barang dagangan. Hanya dalam hitungan menit aku berada di sana, lalu buru-buru masuk kembali ke rumah, sebelum ada orang yang tau kalau aku bawa barang dagangan.

Mengetahui polahku itu, ibuku hanya tersenyum memaklumi. Sejak itu, aku tak lagi “sok pengen berdagang” seperti temanku itu.

Beberapa tahun kemudian, menjelang lulus kuliah, tanpa aku menyadarinya, aku terlibat dalam bisnis susu bubuk. Yang berbisnis sebenarnya ibuku dan kakak perempuanku, yang saat itu menjadi guru di sebuah SMA swasta di Jalan Balonggede Bandung. Susu bubuk skim (non-instan) yang dikemas dalam plastik setengah kiloan, yang dimasukkan dalam tas travel ukuran besar (berisi sekitar 30 bungkus susu), aku bawa dengan sepeda motor ke sekolah tempat kakakku mengajar, lalu disampaikan kepada para pemesan –yang rata-rata ibu-ibu guru.

Aku masih ingat seruan ibu-ibu guru itu, begitu melihatku memarkir motor di depan sekolah. “Susssuuuu!” *dengan nada genit*. Aku juga masih teringat komentar nakal salah seorang dari mereka (yang tidak berminat membeli), “Saya nggak beli ah, mendingan susu saya, kemasannya lebih bagus.” Aku, yang masih bujangan saat itu, hanya nyengir tak mampu membayangkan.

Bisnis susu itu berlangsung tak sampai setahun, setelah aku lulus dan mendapat pekerjaan di Jakarta. Selama belasan tahun, aku asik bekerja (baca: menjadi buruh), hingga suatu hari teman kuliah istriku mengirim kado ulang tahun buat Fay yang diselipi dua bungkus abon (manis dan pedas).

Setelah kami cicipi, lho abon ini ternyata enak banget. Rasanya belum pernah merasakan abon seenak ini sebelumnya. Hanya dalam hitungan jam, abon itu habis dicemil atau digadoin.

Tiba-tiba saja, terlintas di benakku, bagaimana kalau abon ini dijual, tentu bakal laku karena enaknya. Setelah ide ini disampaikan ke teman kuliah istriku itu, ternyata dia memang berbisnis abon (dan produk makanan lainnya). Gayung pun bersambut. Sejak itu, kami pun berbisnis abon, yang kemudian jualannya bertambah dengan serundeng, dendeng, bandeng, dan bakso.

Apa aku berbakat dagang? Bisa ya bisa nggak. Yang jelas, bakat…. ku butuh! *)

*) Bahasa Sunda. Artinya, saking butuhnya.

Foto: Aku dan istriku di FHP (Festival Hari Pasar), Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur, 17 Agustus 2011. [Foto: Hery]